Terik dan Debu-Debu Gunung Sumbing Via Kaliangkrik Adipuro

"Berkat doa-doa dan usaha-usaha
Berkat jatuh dan patuh
Berkat kerinduan
Berkat Tuhan dan alam
Berkatmu."

Pemandangan Desa Butuh, Kaliangkrik

Jurnalku, Jurnal Kami

Menjadi keputusan yang berat untuk saya memilih berangkat ke daerah yang jauh dalam kondisi seperti ini, meski pernah saya datangi sebelumnya, tapi kali ini semua terasa berbeda. Keadaan dunia yang terkungkung pandemi benar-benar membuat dada saya, kamu, dan kita semua merasa sesak. Untuk bernapas pun rasanya sulit karena kita dihadang oleh momok penyakit yang diberi nama Covid-19 dan datangnya dari virus bedebah bernama SARS-CoV-2.

Namun hari itu, seseorang mengetuk pesan Instagram saya dan mengajak saya untuk mendatangi tanah gagah Gunung Sumbing melalui jalur Bowongso yang kemudian tutup sehingga harus kami ubah menuju Kaliangkrik Adipuro. Saya mempertimbangkan ajakan untuk ikut karena jujur, rindu pada tanah pegunungan membumbung tinggi sejak pandemi ini terjadi.

Terima kasih, Frans. Sudah baik mau membawa saya dan mengenalkan ke lingkaran pertemanannya yang begitu asyik. Terima kasih Cikal, Suci, Manda, Yani, Asep, Jay, Sofyan, Dani, dan bang Ucok yang sudah dengan senang hati mengijinkan saya masuk ke dalam dunia kalian yang beragam. Juga terima kasih bang Supir yang belum sempat saya tanyakan namanya.

Semuanya Bermula

Jumat pagi itu, saya mesti ke kantor untuk menyelesaikan urusan pekerjaan yang tertunda. Saat semuanya selesai, saya langsung bergegas pulang untuk mengemas sisa barang yang harus saya bawa. Dan ketika waktunya telah tiba, saya berangkat menuju Manggarai dengan mengendarai KRL dari stasiun Batuceper, Tangerang. 

Di Manggarai, orang pertama yang saya temui adalah sepasang kakak beradik Frans dan Dani, mereka terlihat sedang mengatur tata letak carrier di bagasi mobil. Tidak lama, satu persatu dari mereka mulai datang dan meramaikan suasana malam itu. Kami bersebelas telah siap dan bang Supir menginjak pedal gasnya hingga menggerakan minibus ini dengan doa dan keyakinan yang sangat mantap.


Tiba di Basecamp 

Sekira 12 jam perjalanan menerjang gelap malam, kami akhirnya tiba di Basecamp Adipuro pada jam 08.30 pagi dengan kaki yang pegal dan keringat yang cukup banyak. Penyebabnya adalah kendaraan yang membawa kami tidak sanggup berjalan di medan yang cukup menanjak hingga akhirnya membuat kami semua turun dan membiarkan mobil tersebut berjalan sendiri. Kami yang harus berjalan menyusuri aspal di tengah pertanian warga tanpa ada persiapan apa-apa jelas merasa lelah. Beberapa dari kami malah sudah basah oleh keringat, padahal pendakian sama sekali belum dimulai. Untungnya, tempat dimana kami harus berjalan itu menyuguhkan pemandangan luar biasa dengan Sumbing yang menjadi pemeran utamanya.

Di basecamp, kami semua makan dan membersihkan diri. Kami juga membagi rata barang bawaan terutama peralatan untuk kelompok. Bagi yang membawa tenda, dipersilakan untuk berangkat lebih dulu agar mereka bisa menyiapkan titik kami beristirahat di pos terakhir yaitu pos 4. Sementara saya, Frans, Cikal, Manda, Suci, Yani, Asep, dan Jay menyusulnya dari belakang.

Dari Basecamp Menuju Pos 3

Perjalanan kami dimulai dari basecamp menuju pos 1.5 dengan mengendarai ojek warga. Tarif yang dikenakan adalah Rp. 25.000, namun jika ingin lebih murah kita bisa meminta ojek tersebut untuk berhenti di pos 1, tentu dengan tarif yang berbeda yaitu hanya Rp. 15.000 saja.

Bang Ojek

Dari sini, kami masih harus berjalan cukup jauh untuk bisa mencapai pos 2. Trek yang kami temui masih bebatuan yang tersusun rapi dan bertangga-tangga. Sekira 30 menit barulah kami bisa tiba di pos 2 yang cukup rindang dan tertutup pepohonan yang besar-besar.

Kami beristirahat sejenak, berfoto, lalu kembali berjalan. Estimasi yang kami dapatkan dari petugas basecamp untuk sampai di pos 3 adalah 3 jam. Cukup lama karena jaraknya memang terbilang jauh dan menanjak. Namun kenyataannya, untuk kami berlima, 3 jam adalah waktu yang tidak cukup karena kami baru tiba di pos 3 pada pukul 03.30 sore jauh lebih lama ketimbang estimasi yang kami ketahui. Waktu yang kami lalui terasa lamaaaa sekali karena kami berjalan santai, santaaai sekali.

Terlihat Pos 3 via Mangli

Di perjalanan yang santai itu, ada banyak peristiwa, dari membawa ubi jalar raksasa yang diberikan warga, poop di pinggir trek, hingga pencarian jodoh Manda yang mengawang di langit Sumbing. Banyak tawa yang kami lalui, banyak keringat yang basahi tubuh kami, banyak debu-debu Sumbing yang menyusup ke masker yang kami kenakan. Namun semua itu kami lalui dengan bahagia.

Jalur Putus Asa

Tanjakan tiada henti, terik matahari menggigiti kulit, dan debu yang terbang karena terinjak betul-betul setia menemani kami berjalan. Lutut terasa lemas dan nyeri, lapar menyerang, napas terasa sesak. Inilah ujian dalam pendakian yang sesungguhnya. Kami harus sabar dan tak boleh menyerah, ya, benar saja, kami berhasil melaluinya.

Lelah dan Senyum


Menuju Pos 4 Bersama Malam

Terlalu lama beristirahat di pos 3 membuat kami lalai dalam disiplin waktu. Dalam keadaan langit yang meredup kami memaksa jalan dengan membawa alat penerangan masing-masing. Sebelum itu, Frans dan Cikal meminta izin pada kami untuk berjalan lebih dulu untuk menjemput mereka yang telah di depan. Kali ini, dalam gelap ini, tersisa saya, Suci, Manda, Yani, Asep, dan Jay. Bersama dingin karena terpaan angin membuat kami ingin bergegas sampai di pos 4. Tidak ada yang bisa kami lihat selain trek yang kami sinari dengan senter. Gelap gulita membuat suasana berubah mencekam meski bintang satu persatu mulai menyapa. Meski begitu, kami tetap semangat. Dengan sisa-sisa tenaga, sisa-sisa tekad, juga sisa-sisa keberanian, itulah yang akhirnya membawa kami sampai ke pos 4 meskipun atas bantuan bang Ucok dan Sofyan yang kembali turun untuk menjemput kami. Terima kasih, kalian.

Waktu yang kami lalui malam itu menjadi bagian dalam perjalanan ini yang berharga, tawa kami melebur jadi satu dalam hangatnya tenda-tenda. Api yang menyembur dari kompor, minyak panas yang bergejolak, makanan-makanan yang siap dimasak, juga ubi raksasa yang sejak tadi saya bawa dengan segenap tenaga. Menjadi momen yang entah mengapa berubah menjadi haru.

Menuju Sunrise

Puncak Sejati, Semangat Sehati

Jam 3 subuh saya terbangun dan tak bisa kembali tidur, akhirnya saya memutuskan untuk membakar roti tawar yang saya bawa dan menyiapkannya sebagai bekal summit untuk kawan-kawan saya. Pagi tiba dan saatnya kami meregangkan kembali otot-otot di seluruh tubuh ini agar siap untuk melangkah. Hanya saja, pendakian kali ini tidak lengkap karena Suci harus beristirahat lebih banyak di tenda karena tubuhnya kelelahan, sementara Frans juga tidak ikut karena harus berjaga dan menemani Suci. Tak apa, lain kali kami semua pasti akan berhasil tiba di tanah tertinggi tersebut. Tidak perlu sedih.

Sebelum Summit

Kami semua melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan trek yang sedikit berbeda dengan trek-trek sebelumnya. Di jalur ini, hanya ada tanjakan tak berujung tanpa ada tanah datar sama sekali. Bebatuan dan tanaman edelweiss menyembul di tiap lahan baik kiri maupun kanan. Estimasi untuk bisa sampai puncak adalah 1 jam, dan memang benar, kami tiba di Puncak Sejati sesuai dengan estimasi tersebut.

Seperti biasa, di puncak gunung manapun pastilah kami berfoto ria sembari menyaksikan bentangan alam Jawa Tengah yang begitu luasnya. Beberapa gunung seperti Merapi, Merbabu, Sindoro, Slamet, dan beberapa gunung lainnya terlihat menyembul malu-malu dari ketinggian ini.

Peace

Indah luar biasa, betapa Allah menebar kebesarannya melalui cantiknya hamparan alam yang ia tunjukan. Patutnya saya, kamu, dan kita semua bersyukur bisa hidup dan bernapas, terlebih, bisa bertawadhu' di tengah perjalanan mendaki ini. Alhamdulillah.

Tak lama, kami bergegas turun dan kembali ke tenda. Setelah lelah melalui perjalanan ini, kami bercengkrama sebentar sembari memasak sisa makanan yang kami bawa. Kami tertawa, bernyanyi, bermain game dan juga bercerita. 

Kembali Turun

Setelah semua peralatan masuk ke dalam tas, kami langsung bergegas turun untuk menghindari treking malam seperti sebelumnya. Kami berusaha untuk turun lebih cepat meski salah satu dari kami tak sengaja terkilir kakinya saat turun, saya yang berada di tengah rombongan memutuskan untuk menemani dua wanita, Suci dan Yani yang ingin turun lebih cepat. Sementara Manda, di-handle oleh Asep dan Jay yang lebih berpengalaman.

Menjelang maghrib, kami tiba di pos dimana pangkalan ojek warga telah bersiap-siap untuk membawa kami kembali turun menuju basecamp. Dan atas dasar itu, cerita pendakian kami telah usai. Namun saya yakin demi langit dan bumi, kenangan yang kami dapatkan dua hari ini tak akan mungkin bisa lenyap.

Rembulan

Sekali lagi, saya selalu dibuat takjub di setiap pendakian manapun, dengan siapapun, gunung apapun. Karena memang, saya tak paham apa yang saya ingin temukan dalam perjalanan penuh juang ini, perjalanan yang tak sedikit menghabiskan tabungan ini, perjalanan yang beresiko ini. Sampai saat ini, saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya hanya senang, bahagia, gembira. Entah adakah kata lain yang dapat menafsirkan betapa saya bersyukurnya memiliki hobi yang saat ini selalu saya lakukan. Yang bila mana telah lama berlalu, rindu pada kegiatan ini meledak-ledak bagai letusan aktif gunung vulkanis.

Tak berlebihan, memang, cinta tak bisa ditafsirkan dengan logika. Hanya dalam diri kita yang memahami sebab musababnya. Tak perlu digali alasan itu, karena sampai kapanpun mungkin tak akan bisa saya temukan.

Memandangi

Ringkasan Estimasi Perjalanan
  • Jakarta → Basecamp Adipuro → 12 jam 
  • Basecamp → Pos 1.5 dengan ojek → 15 menit
  • Pos 1.5 → Pos 2 → 30 menit
  • Pos 2 → Pos 3 → 3 Jam 
  • Pos 3 → Pos 4 → 3 Jam
  • Pos 4 → Puncak → 1 Jam




[Artikel] Dari Valak Hingga Telolet, Indonesia Mudah Ciptakan Viral! Mengapa?

Dari Valak Hingga Telolet, Indonesia Mudah Ciptakan Viral! Mengapa?
Hasil foto collage pribadi


Tahun Monyet Api 2016 akan segera berganti dalam sepekan kedepan, banyak sekali hal yang dirasa begitu viral dan mewabah di kalangan masyarakat Indonesia. Kira-kira apa saja ya? Dan apa penyebabnya?
Seperti yang kita ketahui, semua yang menjadi hits dan terkenal tersebut rata-rata kontennya hanyalah hal kecil dan sederhana. Contohnya saja bagaimana iblis Valak yang digambarkan oleh James Wan di Sekuel The Conjuring Pertengahan tahun lalu, masih ingat betapa ramainya meme dan jokes yang mondar-mandir di media sosial kalian bukan? Sosok fenomenal seperti Valak ini sangat mewabah dan dengan “kerecehan” selera humor para kreator jokes, kita dibuat tertawa.
Akhir-akhir ini, media sosial kita lagi-lagi dijangkit virus jokes sederhana. Siapa yang tidak tahu dengan jargon “Om telolet om”? Pasti sebagian besar atau bahkan semua dari kalian mengetahuinya. Dilihat dari manapun, kata sederhana seperti itu semestinya tidak terlalu penting apalagi mampu membuat kita tertawa, tapi berbeda dengan Indonesia. Hal sesederhana apapun akan mudah dibuat viral, ditambah jargon om telolet om tersebut dimulai oleh anak-anak lugu yang “haus telolet” dari klakson bus yang lalu lalang di jalan raya.  Padahal berbahaya ya?
Sebelum kita mengetahui apa penyebab dari mudahnya konten sederhana menjadi viral di Indonesia, simak dulu yuk kaleidoskop konten-konten yang viral pada tahun 2016.
1. Descendant of the Sun
Sumber: reviewkdrama.com
Sumber: reviewkdrama.com
Bagi yang belum tahu pasti akan bingung, tapi untuk para penggemar Drama Korea akan langsung ngeh dan mengiyakan apa yang tertulis di atas. Descendant of the Sun adalah Drama korea yang mengisahkan hubungan manis antara Dokter muda cantik dan Kapten tentara ganteng di negeri Ginseng. Kang Mo Yeon dan Yoo Shi Jin menjadi pasangan viral di pembuka tahun 2016 dari kisah cinta unik mereka.

Jika Drama biasanya hanya menarik penonton bagi para penikmat Korea saja, beda dengan yang satu ini. Dengan kekuatan rating yang mampu menembus 38,8 % pada episode pamungkasnya, Descendant mampu memikat hati para penonton Indonesia termasuk yang merupakan kalangan non-Kpopers. Semua itu dilihat dari profil picture hingga status-status media sosial mereka yang tidak ada henti-hentinya menampilkan tokoh Descendant of the Sun khususnya kedua pasangan tokoh utamanya tersebut.
Sebagai laki-laki, saya tak luput dari virus Descendant ini, mengingat kisahnya tidak melulu tentang Romantisme si tokoh, melainkan lika-liku kemiliteran hingga bencana gempa besar yang mengharuskan Sang Dokter dan Sang Tentara berpadu menjadi super hero! Bagi kalian yang belum lihat, saya rekomendasikan drama yang satu ini. Keren!
2. Valak
Sumber: villains.wikia.com
Sumber: villains.wikia.com

Yap! Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Valak menjadi “tokoh” Viral di pertengahan tahun 2016. Sesuatu yang aneh mengingat Valak adalah tokoh iblis yang digambarkan begitu menyeramkan oleh James Wan sang Sutradara film yang sangat populer, The Conjuring 2 : Enfield Poltergeist. Berbeda dengan tokoh hantu prekuel filmnya Batsheba, Valak menjadi hal yang amat terkenal. Bahkan saking populernya, akan dibuatkan spin-off nya yang berjudul The Nun!

3. Pokemon Go
Sumber: http://www.keywordsking.com
Sumber: http://www.keywordsking.com
Siapa yang tidak tahun Pokemon Go? Game besutan Niantic ini menjadi game yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat dunia. DUNIA! Bagaimana tidak? Game ini memungkinkan para pemainnya untuk berjalan-jalan dalam pencariannya untuk menemukan Pokemon langka.
Bahkan ada kasus di mana pemain tersebut menyewa jasa ojek online untuk sekedar berkeliling mencari Pokemon tanpa memikirkan kocek yang harus ia keluarkan? Wah? Menjiwai sekali ya!
Ada juga peristiwa dimana di suatu taman, terlihat ratusan orang berlarian untuk mendapatkan pokemon langka yang ada di satu titik tempat. Menyukai suatu hal boleh, tapi jangan sampai mencelakai diri sendiri ya, Bisa rugi! Pokemon dapat tapi kondisi tidak sehat? Mana seru.
4. PPAP
Sumber: kawankumagz.com
Sumber: kawankumagz.com
Pernah dengar PPAP?
I Have a pen, I have an apple! Ugh Apple pen.
I Have a pen, I have pineapple! Ugh Pineapple pen.
Apple pen, pineapple pen! Ugh!
Pen pineapple apple pen!
Jika kalian membacanya sambil menyanyi, bisa dipastikan kalian telah terjangkit virus PPAP! PPAP merupakan lagu yang dinyanyikan oleh musisi dan komedian Jepang bernama Kazuhiko Kosaka, atau yang lebih dikenal dengan Piko-Taro. Video ini viral sekira bulan September, padahal sudah diunggahnya dari bulan Agustus. 
Yang lucu adalah, di video tersebut dia menggabungkan barang-barang yang dipegangnya seolah bertransformasi dan bersatu. Dan ini menjadi jokes di kalangan meme maker dengan menggambungkan benda-benda atau hal lainnya. Lucu!
5. Mannequin Challenge
spagosmail.blogger.ba
spagosmail.blogger.ba
Tidak mungkin Mannequin Challenge tidak masuk list, mengingat semua kalangan lintas generasi mengunggah video bak Maneqquin miliknya ke sosial media. Dari pelajar hingga presiden melakukan Challenge yang satu ini. Lagu yang umum digunakan adalah Black Beatles milik Rae Sremmurd.
6. Om Telolet Om
Sumber: www.warsito.web.id
Sumber: www.warsito.web.id
Ini sih yang luar biasa viralnya akhir-akhir ini. Dengan jargon omm telolet om, semua orang sudah bisa dibuat tertawa. Untuk pengetahuan saja, kegiatan mencari “Telolet” oleh anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SD ini sudah lama dilakukan. 

Biasanya, terminal. Mereka akan berbondong-bondong mengejar bus yang akan berangkat atau yang telah kembali dari terminal bus dengan bermodal Handphone genggam dan teriakan “OM TELOLET OM!” untuk direkam.
Banyak artis-artis luar macam Zedd, DJ Snake, Yellowclaw, Marshmello, bahkan Aktris dan penyanyi Korea Sulli ikut meramaikan euphoria Om telolet om ini. Ada juga artis yang bertanya apa itu om telolet om seperti Martin Garrix hingga Bambam GOT7.
Kolom komentar para artis-artis dunia hingga preside AS saat ini penuh dengan Om telolet om. Bahkan ada yang merasa terganggu dengan spam yang viral ini. Bersenang-senang boleh, asal jangan mengganggu mereka. Benarkan?
1. Lebih dari 250 Juta Penduduk
Sumber: Globalstats-Research.com
Sumber: Globalstats-Research.com
Ini sudah jelas, Indonesia salah satu pengguna media sosial yang paling banyak di dunia. Padahal, media sosial itu sendiri datangnya lebih lambat daripada negara-negara lain lho! Tapi kok dalam sekejap saja penggunanya sudah membludak ya? Dari anak kecil hingga orang tua sudah bisa dipastikan memiliki akun media sosialnya sendiri.
Dari banyak pengguna medsos itu, akan sangat memudahkan bagi suatu “Konten Populer” untuk tersebar ke semua orang. Fitur Like dan Sharing menjadi senjata ampuh untuk menyebarkan berita hingga konten tersebut menjadi viral.
Asal jangan menyebar berita HOAX ya!
2. Rasa Penasaran dan Ingin Tahu
Arti KEPO. Abbreviations.com
Arti KEPO. Abbreviations.com

Manusia kan punya akal dan nafsu, wajar bila tingkat “Knowing Every Particular Object” atau KEPO manusia sangat tinggi. Ditambah adanya fitur pencarian semacam Google yang sangat mudah untuk di akses.
3. Manusia Mudah Terhibur “RECEH”
Sumber: www.firdausblog.com
Sumber: www.firdausblog.com
Kata Receh menjadi hal yang beken dengan maksud kita mudah untuk dihibur atau mudah untuk tertawa dari suatu jokes sederhana. Terbukti kan dengan melihat meme Valak atau Om telolet om kita jadi tertawa?
Itu adalah alasan mendasar dari mudahnya konten sederhana menjadi viral di Indonesia, tidak bisa di pungkiri kombinasi dari ketiga alasan tersebut pasti akan membuat sesuatu hal menjadi viral. Bayangkan bila kalian membaca hal menarik lalu menyebarkannya, kemudian yang melihat post-shared anda akan menyebarkannya pula, begitu terus hingga menjadi pesan berantai dan tersebar ke seluruh Indonesia. 
Dan yang tidak punya medsos pun akan merasa penasaran dengan kepopuleran tersebut sehingga memaksakan diri untuk mencarinya di situs pencari seperti Google. Hebat bukan?
Kita boleh saja mengikuti Euphoria dari Kepopuleran suatu hal, tapi jangan sampai berlebihan ya. Ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Karena jika ada yang menyukainya, pasti akan ada yang membenci, Itulah bagaimana hidup ini berjalan.

[Artikel] Legend of the Blue Sea, Kisah Cinta Duyung Cantik di Era Modern

sumber: tv.mthai.com
Jika mendengar kata "Korea" apa yang langsung ada di pikiran kita? Musik KPOP yang digandrungi remaja dunia? Pria-pria ganteng? atau Perempuan cantiknya? Jika ya, coba sesekali anda mengintip karya-karya luar biasa hasil olah tangan kreatif film maker Korea yang sering kali menjadi viral di dunia. Jika anda berpikir tentang drama Korea, maka jawabannya tepat sekali! Karena Korea Selatan, tidak hanya memproduksi musik-musik easy listening nan catchy di telinga kita, tetapi dengan kreativitas yang mereka miliki, Korea Selatan mampu menghasilkan tontonan drama yang layak sekali untuk disaksikan oleh masyarakat dunia, tentu saja dengan mengesampingkan kendala bahasa yang agaknya sedikit rumit dan tidak terbiasa didengar oleh telinga kita.
Lalu saat ini drama apa sih yang menjadi perbincangan masyarakat? Tentu saja salah satunya adalah drama yang dibintangi oleh Aktris Jenius Jun Ji Hyun dan Aktor yang sering kita dengar namanya yaitu Lee Min Ho, mereka memerankan karakter utama dari drama dengan tajuk Legend of the Blue Sea. Drama ini mangangkat sebuah kisah klasik masyarakat Korea Selatan (Cerita Rakyat) dimana seorang Putri Duyung yang terdampar di pesisir pantai ditangkap oleh seorang nelayan dan kemudian dilepaskan kembali oleh seorang bangsawan Joseon bernama Dam-lim (Lee Min Ho).
sumber: aradrama.co
Alur melompat ke zaman modern dimana Shim Chung (Jun Ji Hyun) kembali ditangkap oleh Heo Joon-jae (Lee Min Ho), seseorang penipu ulung tampan yang dingin dan merupakan doppelganger dari Dam-lim. Tapi saat ini, Heo Joon-jae bekerja dengan Jo Nam-doo (Lee Hee-joon), seorang penipu terampil yang memandu Joon-jae untuk menjadi penipu jenius. Nah! Legend of the Blue Sea akan menitikberatkan pada kisah cinta antara Shim Chung sesosok Putri Duyung cantik yang terjebak di era Modern dengan Heo Joon-jae yang merupakan seorang penipu jenius. Menarik bukan?

Terbukti drama ini mampu menembus rating 16,4% pada tayangan perdananya, dan sekarang di episode keempat, Legend of the Blue Sea mampu menembus rating hingga 17.1%. Memang bukan hal yang mengejutkan karena naskah drama ini ditulis oleh salah satu penulis terkenal yaitu Park Ji-eun dimana wanita yang satu ini telah menghasilkan drama-drama hits lainnya seperti My Love From the Star yang juga dibintangi oleh aktris cantik Jun Ji Hyun dan aktor tampan Kim Soo Hyun.

Namun yang mesti diperhatikan di sini adalah, para sineas Korea Selatan tidak segan-segan untuk mengangkat sebuah cerita rakyat untuk dijadikan tayangan yang menarik dan layak untuk ditonton. Padahal, bila kita sadari betul-betul, Indonesia adalah negara yang memiliki segudang cerita rakyat yang agaknya akan menarik bila diangkat menjadi sebuah serial televisi. Yang apabila direalisasikan, tentu manfaat yang didapat bukan hanya sekedar hiburan saja, melainkan juga sebagai edukasi yang dapat mempertajam wawasan masyarakat Indonesia terhadap keberagaman budaya bangsa. Korea Selatan saja bisa, mengapa Indonesia tidak?