"Berkat doa-doa dan usaha-usaha
Berkat jatuh dan patuh
Berkat kerinduan
Berkat Tuhan dan alam
Berkatmu."
Jurnalku, Jurnal Kami
Menjadi keputusan yang berat untuk saya memilih berangkat ke daerah yang jauh dalam kondisi seperti ini, meski pernah saya datangi sebelumnya, tapi kali ini semua terasa berbeda. Keadaan dunia yang terkungkung pandemi benar-benar membuat dada saya, kamu, dan kita semua merasa sesak. Untuk bernapas pun rasanya sulit karena kita dihadang oleh momok penyakit yang diberi nama Covid-19 dan datangnya dari virus bedebah bernama SARS-CoV-2.
Namun hari itu, seseorang mengetuk pesan Instagram saya dan mengajak saya untuk mendatangi tanah gagah Gunung Sumbing melalui jalur Bowongso yang kemudian tutup sehingga harus kami ubah menuju Kaliangkrik Adipuro. Saya mempertimbangkan ajakan untuk ikut karena jujur, rindu pada tanah pegunungan membumbung tinggi sejak pandemi ini terjadi.
Terima kasih, Frans. Sudah baik mau membawa saya dan mengenalkan ke lingkaran pertemanannya yang begitu asyik. Terima kasih Cikal, Suci, Manda, Yani, Asep, Jay, Sofyan, Dani, dan bang Ucok yang sudah dengan senang hati mengijinkan saya masuk ke dalam dunia kalian yang beragam. Juga terima kasih bang Supir yang belum sempat saya tanyakan namanya.
Semuanya Bermula
Jumat pagi itu, saya mesti ke kantor untuk menyelesaikan urusan pekerjaan yang tertunda. Saat semuanya selesai, saya langsung bergegas pulang untuk mengemas sisa barang yang harus saya bawa. Dan ketika waktunya telah tiba, saya berangkat menuju Manggarai dengan mengendarai KRL dari stasiun Batuceper, Tangerang.
Di Manggarai, orang pertama yang saya temui adalah sepasang kakak beradik Frans dan Dani, mereka terlihat sedang mengatur tata letak carrier di bagasi mobil. Tidak lama, satu persatu dari mereka mulai datang dan meramaikan suasana malam itu. Kami bersebelas telah siap dan bang Supir menginjak pedal gasnya hingga menggerakan minibus ini dengan doa dan keyakinan yang sangat mantap.
| Tiba di Basecamp |
Sekira 12 jam perjalanan menerjang gelap malam, kami akhirnya tiba di Basecamp Adipuro pada jam 08.30 pagi dengan kaki yang pegal dan keringat yang cukup banyak. Penyebabnya adalah kendaraan yang membawa kami tidak sanggup berjalan di medan yang cukup menanjak hingga akhirnya membuat kami semua turun dan membiarkan mobil tersebut berjalan sendiri. Kami yang harus berjalan menyusuri aspal di tengah pertanian warga tanpa ada persiapan apa-apa jelas merasa lelah. Beberapa dari kami malah sudah basah oleh keringat, padahal pendakian sama sekali belum dimulai. Untungnya, tempat dimana kami harus berjalan itu menyuguhkan pemandangan luar biasa dengan Sumbing yang menjadi pemeran utamanya.
Dari sini, kami masih harus berjalan cukup jauh untuk bisa mencapai pos 2. Trek yang kami temui masih bebatuan yang tersusun rapi dan bertangga-tangga. Sekira 30 menit barulah kami bisa tiba di pos 2 yang cukup rindang dan tertutup pepohonan yang besar-besar.
Menuju Pos 4 Bersama Malam
Ringkasan Estimasi Perjalanan
Di basecamp, kami semua makan dan membersihkan diri. Kami juga membagi rata barang bawaan terutama peralatan untuk kelompok. Bagi yang membawa tenda, dipersilakan untuk berangkat lebih dulu agar mereka bisa menyiapkan titik kami beristirahat di pos terakhir yaitu pos 4. Sementara saya, Frans, Cikal, Manda, Suci, Yani, Asep, dan Jay menyusulnya dari belakang.
Dari Basecamp Menuju Pos 3
Perjalanan kami dimulai dari basecamp menuju pos 1.5 dengan mengendarai ojek warga. Tarif yang dikenakan adalah Rp. 25.000, namun jika ingin lebih murah kita bisa meminta ojek tersebut untuk berhenti di pos 1, tentu dengan tarif yang berbeda yaitu hanya Rp. 15.000 saja.
| Bang Ojek |
Kami beristirahat sejenak, berfoto, lalu kembali berjalan. Estimasi yang kami dapatkan dari petugas basecamp untuk sampai di pos 3 adalah 3 jam. Cukup lama karena jaraknya memang terbilang jauh dan menanjak. Namun kenyataannya, untuk kami berlima, 3 jam adalah waktu yang tidak cukup karena kami baru tiba di pos 3 pada pukul 03.30 sore jauh lebih lama ketimbang estimasi yang kami ketahui. Waktu yang kami lalui terasa lamaaaa sekali karena kami berjalan santai, santaaai sekali.
![]() |
| Terlihat Pos 3 via Mangli |
Di perjalanan yang santai itu, ada banyak peristiwa, dari membawa ubi jalar raksasa yang diberikan warga, poop di pinggir trek, hingga pencarian jodoh Manda yang mengawang di langit Sumbing. Banyak tawa yang kami lalui, banyak keringat yang basahi tubuh kami, banyak debu-debu Sumbing yang menyusup ke masker yang kami kenakan. Namun semua itu kami lalui dengan bahagia.
Jalur Putus Asa
Tanjakan tiada henti, terik matahari menggigiti kulit, dan debu yang terbang karena terinjak betul-betul setia menemani kami berjalan. Lutut terasa lemas dan nyeri, lapar menyerang, napas terasa sesak. Inilah ujian dalam pendakian yang sesungguhnya. Kami harus sabar dan tak boleh menyerah, ya, benar saja, kami berhasil melaluinya.
| Lelah dan Senyum |
Terlalu lama beristirahat di pos 3 membuat kami lalai dalam disiplin waktu. Dalam keadaan langit yang meredup kami memaksa jalan dengan membawa alat penerangan masing-masing. Sebelum itu, Frans dan Cikal meminta izin pada kami untuk berjalan lebih dulu untuk menjemput mereka yang telah di depan. Kali ini, dalam gelap ini, tersisa saya, Suci, Manda, Yani, Asep, dan Jay. Bersama dingin karena terpaan angin membuat kami ingin bergegas sampai di pos 4. Tidak ada yang bisa kami lihat selain trek yang kami sinari dengan senter. Gelap gulita membuat suasana berubah mencekam meski bintang satu persatu mulai menyapa. Meski begitu, kami tetap semangat. Dengan sisa-sisa tenaga, sisa-sisa tekad, juga sisa-sisa keberanian, itulah yang akhirnya membawa kami sampai ke pos 4 meskipun atas bantuan bang Ucok dan Sofyan yang kembali turun untuk menjemput kami. Terima kasih, kalian.
Waktu yang kami lalui malam itu menjadi bagian dalam perjalanan ini yang berharga, tawa kami melebur jadi satu dalam hangatnya tenda-tenda. Api yang menyembur dari kompor, minyak panas yang bergejolak, makanan-makanan yang siap dimasak, juga ubi raksasa yang sejak tadi saya bawa dengan segenap tenaga. Menjadi momen yang entah mengapa berubah menjadi haru.
![]() |
| Menuju Sunrise |
Puncak Sejati, Semangat Sehati
Jam 3 subuh saya terbangun dan tak bisa kembali tidur, akhirnya saya memutuskan untuk membakar roti tawar yang saya bawa dan menyiapkannya sebagai bekal summit untuk kawan-kawan saya. Pagi tiba dan saatnya kami meregangkan kembali otot-otot di seluruh tubuh ini agar siap untuk melangkah. Hanya saja, pendakian kali ini tidak lengkap karena Suci harus beristirahat lebih banyak di tenda karena tubuhnya kelelahan, sementara Frans juga tidak ikut karena harus berjaga dan menemani Suci. Tak apa, lain kali kami semua pasti akan berhasil tiba di tanah tertinggi tersebut. Tidak perlu sedih.
| Sebelum Summit |
Kami semua melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan trek yang sedikit berbeda dengan trek-trek sebelumnya. Di jalur ini, hanya ada tanjakan tak berujung tanpa ada tanah datar sama sekali. Bebatuan dan tanaman edelweiss menyembul di tiap lahan baik kiri maupun kanan. Estimasi untuk bisa sampai puncak adalah 1 jam, dan memang benar, kami tiba di Puncak Sejati sesuai dengan estimasi tersebut.
Seperti biasa, di puncak gunung manapun pastilah kami berfoto ria sembari menyaksikan bentangan alam Jawa Tengah yang begitu luasnya. Beberapa gunung seperti Merapi, Merbabu, Sindoro, Slamet, dan beberapa gunung lainnya terlihat menyembul malu-malu dari ketinggian ini.
![]() |
| Peace |
Indah luar biasa, betapa Allah menebar kebesarannya melalui cantiknya hamparan alam yang ia tunjukan. Patutnya saya, kamu, dan kita semua bersyukur bisa hidup dan bernapas, terlebih, bisa bertawadhu' di tengah perjalanan mendaki ini. Alhamdulillah.
Tak lama, kami bergegas turun dan kembali ke tenda. Setelah lelah melalui perjalanan ini, kami bercengkrama sebentar sembari memasak sisa makanan yang kami bawa. Kami tertawa, bernyanyi, bermain game dan juga bercerita.
Kembali Turun
Setelah semua peralatan masuk ke dalam tas, kami langsung bergegas turun untuk menghindari treking malam seperti sebelumnya. Kami berusaha untuk turun lebih cepat meski salah satu dari kami tak sengaja terkilir kakinya saat turun, saya yang berada di tengah rombongan memutuskan untuk menemani dua wanita, Suci dan Yani yang ingin turun lebih cepat. Sementara Manda, di-handle oleh Asep dan Jay yang lebih berpengalaman.
Menjelang maghrib, kami tiba di pos dimana pangkalan ojek warga telah bersiap-siap untuk membawa kami kembali turun menuju basecamp. Dan atas dasar itu, cerita pendakian kami telah usai. Namun saya yakin demi langit dan bumi, kenangan yang kami dapatkan dua hari ini tak akan mungkin bisa lenyap.
![]() |
| Rembulan |
Sekali lagi, saya selalu dibuat takjub di setiap pendakian manapun, dengan siapapun, gunung apapun. Karena memang, saya tak paham apa yang saya ingin temukan dalam perjalanan penuh juang ini, perjalanan yang tak sedikit menghabiskan tabungan ini, perjalanan yang beresiko ini. Sampai saat ini, saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya hanya senang, bahagia, gembira. Entah adakah kata lain yang dapat menafsirkan betapa saya bersyukurnya memiliki hobi yang saat ini selalu saya lakukan. Yang bila mana telah lama berlalu, rindu pada kegiatan ini meledak-ledak bagai letusan aktif gunung vulkanis.
Tak berlebihan, memang, cinta tak bisa ditafsirkan dengan logika. Hanya dalam diri kita yang memahami sebab musababnya. Tak perlu digali alasan itu, karena sampai kapanpun mungkin tak akan bisa saya temukan.
![]() |
| Memandangi |
Ringkasan Estimasi Perjalanan
- Jakarta → Basecamp Adipuro → 12 jam
- Basecamp → Pos 1.5 dengan ojek → 15 menit
- Pos 1.5 → Pos 2 → 30 menit
- Pos 2 → Pos 3 → 3 Jam
- Pos 3 → Pos 4 → 3 Jam
- Pos 4 → Puncak → 1 Jam

















