Pendakian Pertama 2017, Papandayan Pemilik Sunrise Terbaik (Bermotor dari Jakarta)

Langkah selalu terarah
Membawaku jatuh ke tanah basah
Syukur Tuhan mengenalkan
Pada kawan yang bawaku ke ketinggian
Melihat rasi melukis malam yang nirmala


Papandayan! Tak pernah terbesit sedikit pun bagi saya untuk mengarahkan langkah kaki ke sana. Tak seperti Bali, Jogja, Bandung, atau destinasi wisata lainnya yang lumrah untuk dikunjungi.

Meskipun banyak yang bilang bahwa Papandayan hanyalah tempat wisata. Bagi saya, Papandayan tetaplah berwajah menyeramkan, gunung adalah  gunung, gagah berdiri menantang langit, siap mendepak siapapun yang datang dengan kesombongan.

Lalu saya, bersama lima rekan saya, Hana, Boni, Bima, Oscar, dan Ayu.

Remaja tanggung yang datang membawa segenggam rasa penasaran. Mendatanginya, mendatangi Papandayan yang kelak menjadi bagian sejarah dalam hidup saya, yang memperkenalkan saya pada corak warna-warni bumi, pada adhiwarnanya, pada rasa syukur yang membakar semangat saya untuk datang kembali, lalu datang lagi, kemudian datang lagi. Yang memantik rasa syukur saya untuk mencintai alam, mencintai ketinggian, mencintai perjalanannya yang ditempuh untuk sampai di keindahan.

Inilah Papandayan, si kecil dari Jawa Barat.


Saat fajar hampir datang


Baiklah, sesuai judulnya, saya memang mendatangi Papandayan dengan cara yang sedikit menguras tenaga, yaitu dengan mengendarai sepeda motor. Benar saja, perjalanan yang lumrahnya ditempuh sekira 8 jam, dengan kesoktahuan kami yang buta arah, tibalah di basecamp Papandayan dengan waktu yang cukup lama, yaitu 12 jam, tentu saja dengan banyaknya kendala yang mesti kami lalui, mulai dari tertilang polisi, terpisahnya saya dari rombongan, hingga mogoknya motor rekan saya, Bima, saat mendaki tanjakan curam di kaki gunung Papandayan (arah menuju basecamp).

Saya dan 5 rekan saya yang lain tiba pada pukul 8 malam. Saat itu, hujan menyertai perjalanan kami, saya menggigil, dingin, sumpah, mengendarai motor saat hujan tanpa mantel adalah pilihan bodoh yang saya lakukan saat itu. Tapi untunglah, di basecamp Papandayan ada penjaga yang membuat api unggun. Saya terselamatkan.

Lalu, Saya dua kali terselamatkan saat tak sengaja mengadah ke langit malam. Bintang-bintang yang bertabur di gelapnya malam sungguh menghangatkan raga saya, bahkan mungkin jiwa saya saat itu. Saya beruntung, ternyata langit mau berbaik hati untuk memperlihatkan lukisannya yang agung.

Di sana, Hana bertanya pada penjaga loket soal biaya yang mesti kami bayar untuk bisa masuk, dan ternyata benar kata orang. Papandayan adalah gunung yang sangat mahal. Untuk bisa masuk, kami harus merogoh kocek  kurang lebih 30 ribu perharinya, itupun belum biaya kendaraan.

Untungnya, kami memutar otak dan ternyata berhasil. Kami membangun tenda di luar lokasi pendakian, lalu menitipkan kendaraan di dekat gerbang masuk agar tidak dikenai biaya parkir yang cukup mahal, kami memohon penjaga sana untuk sekali waktu memantau motor kami, dan mereka ternyata berbaik hati mau. Artinya, kami hanya dihitung memasuki kawasan pendakian satu hari saja, dan wajib membayar sejumlah 30 ribu. Akan beda bila kami masuk saat itu juga, kami harus membayar dalam hitungan dua hari dan biaya masuk kendaraan. Bila dijumlahkan, duh, bangkrut.

Malam itu kami berenam tertidur dalam tenda yang normalnya berisi empat orang. Namun, karena berdesak-desakan, dingin yang menghantam kulit justru menjadi hilang.

Pukul 4 pagi, kami bangun dan bersiap untuk mendaki. Kondisi tanah yang lembab membuat nyali saya sedikit ciut saat itu, apakah saya bisa? Mungkin berlebihan bagi anda, tapi percayalah, saya yang nihil pengetahuan soal gunung saat itu benar-benar kebingungan. Siapa juga pukul 4 pagi malah menyusuri hutan dan baku hantam dengan tanah basah?

Dengan kesoktahuan kami berlima (Ayu memutuskan tidak ikut dan bergabung dengan penjaga di basecamp) bergeraklah kami menuju trek pendakian di tengah gelapnya suasana kala itu. Penerangan hanya berasal dari bulan dan senter yang kami bawa, dingin menusuk kulit, bebatuan menusuk telapak kaki, dan rasa takut membebani. Kami terus berjalan dan beberapa kali bertemu pondok kecil yang kala itu belum saya ketahui fungsinya (ternyata itu adalah shelter untuk beristirahat).


shelter dengan pemandangan menakjubkan


Saat di ketinggian tertentu, matahari mulai malu-malu menyapa, kehangatannya seolah menyirami seluruh tubuh kami, dan…sungguh! Kalian harus melihatnya.

Bagi saya, pemandangan yang saya lihat ini tidaklah ada duanya.

Matahari menyembul di sela-sela gunung Cikuray yang terlihat dari posisi kami.

Menawan, langit menjadi ungu keemasan. Bintang-bintang yang bertabur di angkasa belum hilang meski matahari sudah sedikit hadir.


keemasan


Pemandangan sunrise terindah dalam hidup saya. Hingga saat ini, dari beberapa gunung yang sudah saya singgahi, Papandayan masih menjadi pemilik sunrise terbaik!

Kami menyempatkan diri untuk befoto hingga fajar menyingsing, ia bergagah-gagah menghadiahi kami cahayanya yang hangat. Kami duduk sebentar memandanginya lalu  melanjutkan perjalanan menuju Hutan mati.

Hutan Mati

Tak henti-hentinya Papandayan membuat saya takjub, gugusan pohon mati yang terhampar luas begitu memanjakan mata. Konon, hutan mati ini terbuat karena letusan dari gunung Papandayan itu sendiri yang menghanguskan pepohonan di sekitar kawah. Tapi, hasilnya justru terciptanya hutan ikonik ini. Kalian yang ke Papandayan wajib untuk ke sini. Posisinya memang agak tinggi, menyusuri bebatuan yang bertangga-tangga, tapi percayalah, jika sudah sampai kalian tidak akan kecewa.

Saat puas memandangi adhiwarna Papandayan, kami memutuskan untuk kembali turun mengingat rekan kami Ayu, ditinggalkan seorang diri di basecamp.

Namun saat melihat jam masih terlampau pagi, kami mengurungkan niat dan bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun, surganya Edelweiss.

Baiklah, saya mengakui bahwa kepala-kepala kami perlu dihantam sebagai pembelajaran untuk mendepak rasa egois dalam diri. Meninggalkan rekan seorang diri di basecamp bukanlah merupakan tindakan terpuji, dan saat itu, kami telat sadar. Untungnya saat kembali turun, Ayu terlihat sedang asyik tertawa bersama salah satu penjaga loket di basecamp Papandayan. Alhamdulillah.


bukit bebatuan


Untuk menuju Tegal Alun, kami mesti menaiki sebuah bukit yang ada di depan kami saat itu, kami bergegas mencari trek yang benar dan bertemu dengan beberapa pendaki yang kebetulan mengarah ke tujuan yang sama. Kami segera melangkahkan kaki, semakin tinggi, samakin terjal trek yang kami lalui, entahlah, mungkin kemiringannya sekira 70 derajat mengingat posisi kami seperti sedang memanjat tebing. Hanya saja, bebatuan yang besar menjadi pegangan kami agar tidak terperosok ke bawah.


trek bebatuan

dekat kawah


Perbekalan minum kami habis, namun haus menyerang.  Saya yang saat itu berada di paling depan berteriak pada pendaki yang lebih dulu di atas untuk meminta seteguk air, dan syukurlah, ia memberikannya.

Menjadi langkah yang salah saat kami percaya pada salah satu rekan kami, Oscar, ia mengatakan tidak perlu membawa minum sebab di Tegal Alun ada telaga yang airnya bisa di minum. Memang benar ada telaga, namun banyak lumut yang bersarang sehingga sulit untuk mengatakan bahwa air itu layak untuk diminum. Tapi karena sudah terlampau haus, saya tetap memutuskan untuk meminumnya.

Tegal Alun

Saya menamainya, Hidden Paradise of Edelweiss. Ya! Surga yang tersembunyi bagi Edelweiss. Saat pertama kali memasuki area Tegal Alun, kita sudah disuguhi dengan hamparan kebun Edelweiss yang begitu rapi tertata, Indah. Asli, Indah sekali. Belum lagi di tengahnya ada telaga mungil yang merefleksikan bunga-bunga Edelweiss sehingga membuatnya dua kali lipat lebih indah. Duh, asli, kalo ingat itu rasanya ingin kembali lagi!

telaga di tegal alun


Tapi, kami tidak bisa berlama-lama, sebab Ayu masih menunggu kami di basecamp seorang diri. Boni yang sedang asik memotret akhirnya menyudahinya, dan kami bergegas untuk kembali turun.

Dari sini, kami tidak mengambil jalan memutar yang mengarah ke Pondok Saladah. Kami kembali ke jalur sebelumnya, dari sini, saya menyadari sesuatu. Bahwa mendaki sebaiknya mesti menghindari celana jeans. Udah ribet, susah kering pula! Jalur yang terjal memaksa kami harus berseluncur seperti bocah. Kotor menggerayangi seluruh pakaian kami. Pokoknya bener-bener cebrik deh, lumpur tanah, lumpur belerang, semuanya menempel di baju dan celana. Tapi tak apa! Jadikan pembelajaran.


rest

Aksi turun pun berlanjut, mungkin karena saat naik kita fokus melihat  ke atas, kami jadi melewatkan pemandangan luar biasa di belakang kami. Sungguh perbukitan hijau memanjakan mata, tak heran, Papandayan selalu ramai pengunjung mengingat suguhan alamnya tak bisa diremehkan!


pemandangan perbukitan

Sekira pukul 12 siang, kami tiba di basecamp dan kembali menjumpai Ayu. Dia ternyata menunggui kami sembari mengobrol banyak dengan akang penjaganya, saya bersyukur, tak terjadi apapun pada Ayu mengingat kondisi fisiknya yang sedang kurang bagus.

Setelah itu, kami beberes dan pamit. Kami pulang dengan formasi yang sama. Saya dengan Boni, Ayu dengan Bima, Hana dengan Oscar. Kami turun dan memutuskan untuk makan siang di daerah kaki gunung Papandayan.


kami berenam dan akang penjaga


Kami berpikir saat itu, pulang semestinya berlalu lebih cepat dsbanding saat berangkat. Namun naas, hujan kembali menggerayangi kami dan membuat kami pulang dengan rasa lelah yang teramat sangat. Bayangkan! 13 jam perjalanan, atau dengan total 25 jam pulang pergi sudah plus istirahat, kami berada di perjalanan.

Lebih lagi, motor yang saya bawa adalah motor kopling dimana saat itu rekan-rekan saya belum ada yang bisa mengendarainya, hingga memaksa saya mengendarai tanpa ada pergantian rider! Huh! Lelah tapi mengingat apa yang kami dapat di Papandayan meluruhkan semua perasaan-perasaan negatif itu hingga membuat saya menjadi sekarang ini.

Berkat Papandayan, saya belajar banyak hal. Manajemen waktu, persiapan matang, hingga membuang ego jauh-jauh, ah satu hal lagi, peralatan mendaki! Saya tidak mengenakan peralatan mendaki satupun kala itu. Jaket, sepatu, tas, hingga pakaian. Dari sana, saya mulai mencicil untuk membeli beberapa perlengkapan, dan saat ini, saya menjadi ketagihan untuk datang lagi, lalu datang lagi, kemudian datang lagi.


makasih boni udah difotoin wkwk


Inilah cerita singkat saya mendaki pertama kali, saya dibuat takjub oleh keindahan alam, saat di rumah, perasaan saya bergejolak untuk mengunjungi gunung-gunung lain di Indonesia. Menjumpai adhiwarnanya dengan kebudayaan lokal di setiap daerah yang luhur.

Arah lengkah membawaku kembali datang
Mengunjungi langit-langit di atas awan
Menjumpai corak bumi di ketinggian
Semua sebab rindu datang menghujam