Membawaku jatuh ke tanah basah
Syukur Tuhan mengenalkan
Pada kawan yang bawaku ke ketinggian
Melihat rasi melukis malam yang nirmala
Papandayan!
Tak pernah terbesit sedikit pun bagi saya untuk mengarahkan langkah kaki ke
sana. Tak seperti Bali, Jogja, Bandung, atau destinasi wisata lainnya yang
lumrah untuk dikunjungi.
Meskipun banyak yang bilang bahwa
Papandayan hanyalah tempat wisata. Bagi saya, Papandayan tetaplah berwajah menyeramkan, gunung adalah gunung, gagah
berdiri menantang langit, siap mendepak siapapun yang datang dengan
kesombongan.
Lalu saya,
bersama lima rekan saya, Hana, Boni, Bima, Oscar, dan Ayu.
Remaja tanggung yang datang membawa segenggam rasa penasaran. Mendatanginya,
mendatangi Papandayan yang kelak menjadi bagian sejarah dalam hidup saya, yang
memperkenalkan saya pada corak warna-warni bumi, pada adhiwarnanya, pada rasa
syukur yang membakar semangat saya untuk datang kembali, lalu datang lagi,
kemudian datang lagi. Yang memantik rasa syukur saya untuk mencintai alam, mencintai
ketinggian, mencintai perjalanannya yang ditempuh untuk sampai di keindahan.
Baiklah,
sesuai judulnya, saya memang mendatangi Papandayan dengan cara yang sedikit menguras tenaga, yaitu dengan
mengendarai sepeda motor. Benar saja, perjalanan yang lumrahnya ditempuh sekira
8 jam, dengan kesoktahuan kami yang buta arah, tibalah di basecamp Papandayan
dengan waktu yang cukup lama, yaitu 12 jam, tentu saja dengan banyaknya kendala
yang mesti kami lalui, mulai dari tertilang polisi, terpisahnya saya dari
rombongan, hingga mogoknya motor rekan saya, Bima, saat mendaki tanjakan curam
di kaki gunung Papandayan (arah menuju basecamp).
Saya dan 5
rekan saya yang lain tiba pada pukul 8 malam. Saat itu, hujan menyertai
perjalanan kami, saya menggigil, dingin, sumpah, mengendarai motor saat hujan
tanpa mantel adalah pilihan bodoh yang saya lakukan saat itu. Tapi untunglah,
di basecamp Papandayan ada penjaga yang membuat api unggun. Saya terselamatkan.
Lalu, Saya
dua kali terselamatkan saat tak sengaja mengadah ke langit malam.
Bintang-bintang yang bertabur di gelapnya malam sungguh menghangatkan raga
saya, bahkan mungkin jiwa saya saat itu. Saya beruntung, ternyata langit mau
berbaik hati untuk memperlihatkan lukisannya yang agung.
Di sana,
Hana bertanya pada penjaga loket soal biaya yang mesti kami bayar untuk bisa
masuk, dan ternyata benar kata orang. Papandayan adalah gunung yang sangat
mahal. Untuk bisa masuk, kami harus merogoh kocek kurang lebih 30 ribu perharinya, itupun belum
biaya kendaraan.
Untungnya,
kami memutar otak dan ternyata berhasil. Kami membangun tenda di luar lokasi
pendakian, lalu menitipkan kendaraan di dekat gerbang masuk agar tidak dikenai
biaya parkir yang cukup mahal, kami memohon penjaga sana untuk sekali waktu
memantau motor kami, dan mereka ternyata berbaik hati mau. Artinya, kami hanya dihitung memasuki kawasan pendakian satu hari saja, dan wajib membayar sejumlah
30 ribu. Akan beda bila kami masuk saat itu juga, kami harus membayar dalam
hitungan dua hari dan biaya masuk kendaraan. Bila dijumlahkan, duh, bangkrut.
Malam itu
kami berenam tertidur dalam tenda yang normalnya berisi empat orang. Namun,
karena berdesak-desakan, dingin yang menghantam kulit justru menjadi hilang.
Pukul 4
pagi, kami bangun dan bersiap untuk mendaki. Kondisi tanah yang lembab membuat
nyali saya sedikit ciut saat itu, apakah saya bisa? Mungkin berlebihan bagi
anda, tapi percayalah, saya yang nihil pengetahuan soal gunung saat itu
benar-benar kebingungan. Siapa juga pukul 4 pagi malah menyusuri hutan dan baku
hantam dengan tanah basah?
Dengan
kesoktahuan kami berlima (Ayu memutuskan tidak ikut dan bergabung dengan penjaga
di basecamp) bergeraklah kami menuju trek pendakian di tengah gelapnya suasana
kala itu. Penerangan hanya berasal dari bulan dan senter yang kami bawa, dingin
menusuk kulit, bebatuan menusuk telapak kaki, dan rasa takut membebani. Kami
terus berjalan dan beberapa kali bertemu pondok kecil yang kala itu belum saya ketahui
fungsinya (ternyata itu adalah shelter untuk beristirahat).
![]() |
| shelter dengan pemandangan menakjubkan |
Saat di
ketinggian tertentu, matahari mulai malu-malu menyapa, kehangatannya seolah
menyirami seluruh tubuh kami, dan…sungguh! Kalian harus melihatnya.
Bagi saya,
pemandangan yang saya lihat ini tidaklah ada duanya.
Matahari
menyembul di sela-sela gunung Cikuray yang terlihat dari posisi kami.
Menawan,
langit menjadi ungu keemasan. Bintang-bintang yang bertabur di angkasa belum
hilang meski matahari sudah sedikit hadir.
![]() |
| keemasan |
Pemandangan
sunrise terindah dalam hidup saya. Hingga saat ini, dari beberapa gunung yang
sudah saya singgahi, Papandayan masih menjadi pemilik sunrise terbaik!
Kami
menyempatkan diri untuk befoto hingga fajar menyingsing, ia bergagah-gagah menghadiahi
kami cahayanya yang hangat. Kami duduk sebentar memandanginya lalu melanjutkan perjalanan menuju Hutan mati.
Hutan Mati
Tak
henti-hentinya Papandayan membuat saya takjub, gugusan pohon mati yang terhampar luas begitu memanjakan
mata. Konon, hutan mati ini terbuat karena letusan dari gunung Papandayan itu
sendiri yang menghanguskan pepohonan di sekitar kawah. Tapi, hasilnya justru
terciptanya hutan ikonik ini. Kalian yang ke Papandayan wajib untuk ke sini.
Posisinya memang agak tinggi, menyusuri bebatuan yang bertangga-tangga, tapi
percayalah, jika sudah sampai kalian tidak akan kecewa.
Saat puas
memandangi adhiwarna Papandayan, kami memutuskan untuk kembali turun mengingat
rekan kami Ayu, ditinggalkan seorang diri di basecamp.
Namun saat
melihat jam masih terlampau pagi, kami mengurungkan niat dan bergegas untuk
melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun, surganya Edelweiss.
Baiklah,
saya mengakui bahwa kepala-kepala kami perlu dihantam sebagai pembelajaran
untuk mendepak rasa egois dalam diri. Meninggalkan rekan seorang diri di
basecamp bukanlah merupakan tindakan terpuji, dan saat itu, kami telat sadar.
Untungnya saat kembali turun, Ayu terlihat sedang asyik tertawa bersama salah
satu penjaga loket di basecamp Papandayan. Alhamdulillah.
![]() |
| bukit bebatuan |
Untuk
menuju Tegal Alun, kami mesti menaiki sebuah bukit yang ada di depan kami saat
itu, kami bergegas mencari trek yang benar dan bertemu dengan beberapa pendaki
yang kebetulan mengarah ke tujuan yang sama. Kami segera melangkahkan kaki,
semakin tinggi, samakin terjal trek yang kami lalui, entahlah, mungkin
kemiringannya sekira 70 derajat mengingat posisi kami seperti sedang memanjat
tebing. Hanya saja, bebatuan yang besar menjadi pegangan kami agar tidak
terperosok ke bawah.
![]() |
| trek bebatuan |
![]() |
| dekat kawah |
Perbekalan
minum kami habis, namun haus menyerang.
Saya yang saat itu berada di paling depan berteriak pada pendaki yang
lebih dulu di atas untuk meminta seteguk air, dan syukurlah, ia memberikannya.
Menjadi
langkah yang salah saat kami percaya pada salah satu rekan kami, Oscar, ia
mengatakan tidak perlu membawa minum sebab di Tegal Alun ada telaga yang airnya
bisa di minum. Memang benar ada telaga, namun banyak lumut yang bersarang
sehingga sulit untuk mengatakan bahwa air itu layak untuk diminum. Tapi karena
sudah terlampau haus, saya tetap memutuskan untuk meminumnya.
Tegal Alun
Saya
menamainya, Hidden Paradise of Edelweiss.
Ya! Surga yang tersembunyi bagi Edelweiss. Saat pertama kali memasuki area Tegal
Alun, kita sudah disuguhi dengan hamparan kebun Edelweiss yang begitu rapi
tertata, Indah. Asli, Indah sekali. Belum lagi di tengahnya ada telaga mungil
yang merefleksikan bunga-bunga Edelweiss sehingga membuatnya dua kali lipat
lebih indah. Duh, asli, kalo ingat itu rasanya ingin kembali lagi!
![]() |
| telaga di tegal alun |
Tapi, kami
tidak bisa berlama-lama, sebab Ayu masih menunggu kami di basecamp seorang
diri. Boni yang sedang asik memotret akhirnya menyudahinya, dan kami bergegas
untuk kembali turun.
Dari sini,
kami tidak mengambil jalan memutar yang mengarah ke Pondok Saladah. Kami kembali
ke jalur sebelumnya, dari sini, saya menyadari sesuatu. Bahwa mendaki sebaiknya
mesti menghindari celana jeans. Udah ribet, susah kering pula! Jalur yang
terjal memaksa kami harus berseluncur seperti bocah. Kotor menggerayangi
seluruh pakaian kami. Pokoknya bener-bener cebrik deh, lumpur tanah, lumpur
belerang, semuanya menempel di baju dan celana. Tapi tak apa! Jadikan
pembelajaran.
Aksi turun
pun berlanjut, mungkin karena saat naik kita fokus melihat ke atas, kami jadi melewatkan pemandangan luar
biasa di belakang kami. Sungguh perbukitan hijau memanjakan mata, tak heran,
Papandayan selalu ramai pengunjung mengingat suguhan alamnya tak bisa
diremehkan!
Sekira
pukul 12 siang, kami tiba di basecamp dan kembali menjumpai Ayu. Dia ternyata
menunggui kami sembari mengobrol banyak dengan akang penjaganya, saya
bersyukur, tak terjadi apapun pada Ayu mengingat kondisi fisiknya yang sedang
kurang bagus.
Setelah
itu, kami beberes dan pamit. Kami pulang dengan formasi yang sama. Saya dengan
Boni, Ayu dengan Bima, Hana dengan Oscar. Kami turun dan memutuskan untuk makan
siang di daerah kaki gunung Papandayan.
![]() |
| kami berenam dan akang penjaga |
Kami
berpikir saat itu, pulang semestinya berlalu lebih cepat dsbanding saat
berangkat. Namun naas, hujan kembali menggerayangi kami dan membuat kami pulang
dengan rasa lelah yang teramat sangat. Bayangkan! 13 jam perjalanan, atau
dengan total 25 jam pulang pergi sudah plus istirahat, kami berada di
perjalanan.
Lebih lagi,
motor yang saya bawa adalah motor kopling dimana saat itu rekan-rekan saya
belum ada yang bisa mengendarainya, hingga memaksa saya mengendarai tanpa ada
pergantian rider! Huh! Lelah tapi mengingat apa yang kami dapat di Papandayan
meluruhkan semua perasaan-perasaan negatif itu hingga membuat saya menjadi
sekarang ini.
Berkat
Papandayan, saya belajar banyak hal. Manajemen waktu, persiapan matang, hingga
membuang ego jauh-jauh, ah satu hal lagi, peralatan mendaki! Saya tidak
mengenakan peralatan mendaki satupun kala itu. Jaket, sepatu, tas, hingga
pakaian. Dari sana, saya mulai mencicil untuk membeli beberapa perlengkapan,
dan saat ini, saya menjadi ketagihan untuk datang lagi, lalu datang lagi,
kemudian datang lagi.
![]() |
| makasih boni udah difotoin wkwk |
Inilah cerita singkat saya mendaki pertama kali, saya dibuat takjub oleh keindahan alam, saat di rumah, perasaan saya bergejolak untuk mengunjungi gunung-gunung lain di Indonesia. Menjumpai adhiwarnanya dengan kebudayaan lokal di setiap daerah yang luhur.
Arah lengkah membawaku kembali datang
Mengunjungi langit-langit di atas awan
Menjumpai corak bumi di ketinggian
Semua sebab rindu datang menghujam
Mengunjungi langit-langit di atas awan
Menjumpai corak bumi di ketinggian
Semua sebab rindu datang menghujam










