Terik dan Debu-Debu Gunung Sumbing Via Kaliangkrik Adipuro

"Berkat doa-doa dan usaha-usaha
Berkat jatuh dan patuh
Berkat kerinduan
Berkat Tuhan dan alam
Berkatmu."

Pemandangan Desa Butuh, Kaliangkrik

Jurnalku, Jurnal Kami

Menjadi keputusan yang berat untuk saya memilih berangkat ke daerah yang jauh dalam kondisi seperti ini, meski pernah saya datangi sebelumnya, tapi kali ini semua terasa berbeda. Keadaan dunia yang terkungkung pandemi benar-benar membuat dada saya, kamu, dan kita semua merasa sesak. Untuk bernapas pun rasanya sulit karena kita dihadang oleh momok penyakit yang diberi nama Covid-19 dan datangnya dari virus bedebah bernama SARS-CoV-2.

Namun hari itu, seseorang mengetuk pesan Instagram saya dan mengajak saya untuk mendatangi tanah gagah Gunung Sumbing melalui jalur Bowongso yang kemudian tutup sehingga harus kami ubah menuju Kaliangkrik Adipuro. Saya mempertimbangkan ajakan untuk ikut karena jujur, rindu pada tanah pegunungan membumbung tinggi sejak pandemi ini terjadi.

Terima kasih, Frans. Sudah baik mau membawa saya dan mengenalkan ke lingkaran pertemanannya yang begitu asyik. Terima kasih Cikal, Suci, Manda, Yani, Asep, Jay, Sofyan, Dani, dan bang Ucok yang sudah dengan senang hati mengijinkan saya masuk ke dalam dunia kalian yang beragam. Juga terima kasih bang Supir yang belum sempat saya tanyakan namanya.

Semuanya Bermula

Jumat pagi itu, saya mesti ke kantor untuk menyelesaikan urusan pekerjaan yang tertunda. Saat semuanya selesai, saya langsung bergegas pulang untuk mengemas sisa barang yang harus saya bawa. Dan ketika waktunya telah tiba, saya berangkat menuju Manggarai dengan mengendarai KRL dari stasiun Batuceper, Tangerang. 

Di Manggarai, orang pertama yang saya temui adalah sepasang kakak beradik Frans dan Dani, mereka terlihat sedang mengatur tata letak carrier di bagasi mobil. Tidak lama, satu persatu dari mereka mulai datang dan meramaikan suasana malam itu. Kami bersebelas telah siap dan bang Supir menginjak pedal gasnya hingga menggerakan minibus ini dengan doa dan keyakinan yang sangat mantap.


Tiba di Basecamp 

Sekira 12 jam perjalanan menerjang gelap malam, kami akhirnya tiba di Basecamp Adipuro pada jam 08.30 pagi dengan kaki yang pegal dan keringat yang cukup banyak. Penyebabnya adalah kendaraan yang membawa kami tidak sanggup berjalan di medan yang cukup menanjak hingga akhirnya membuat kami semua turun dan membiarkan mobil tersebut berjalan sendiri. Kami yang harus berjalan menyusuri aspal di tengah pertanian warga tanpa ada persiapan apa-apa jelas merasa lelah. Beberapa dari kami malah sudah basah oleh keringat, padahal pendakian sama sekali belum dimulai. Untungnya, tempat dimana kami harus berjalan itu menyuguhkan pemandangan luar biasa dengan Sumbing yang menjadi pemeran utamanya.

Di basecamp, kami semua makan dan membersihkan diri. Kami juga membagi rata barang bawaan terutama peralatan untuk kelompok. Bagi yang membawa tenda, dipersilakan untuk berangkat lebih dulu agar mereka bisa menyiapkan titik kami beristirahat di pos terakhir yaitu pos 4. Sementara saya, Frans, Cikal, Manda, Suci, Yani, Asep, dan Jay menyusulnya dari belakang.

Dari Basecamp Menuju Pos 3

Perjalanan kami dimulai dari basecamp menuju pos 1.5 dengan mengendarai ojek warga. Tarif yang dikenakan adalah Rp. 25.000, namun jika ingin lebih murah kita bisa meminta ojek tersebut untuk berhenti di pos 1, tentu dengan tarif yang berbeda yaitu hanya Rp. 15.000 saja.

Bang Ojek

Dari sini, kami masih harus berjalan cukup jauh untuk bisa mencapai pos 2. Trek yang kami temui masih bebatuan yang tersusun rapi dan bertangga-tangga. Sekira 30 menit barulah kami bisa tiba di pos 2 yang cukup rindang dan tertutup pepohonan yang besar-besar.

Kami beristirahat sejenak, berfoto, lalu kembali berjalan. Estimasi yang kami dapatkan dari petugas basecamp untuk sampai di pos 3 adalah 3 jam. Cukup lama karena jaraknya memang terbilang jauh dan menanjak. Namun kenyataannya, untuk kami berlima, 3 jam adalah waktu yang tidak cukup karena kami baru tiba di pos 3 pada pukul 03.30 sore jauh lebih lama ketimbang estimasi yang kami ketahui. Waktu yang kami lalui terasa lamaaaa sekali karena kami berjalan santai, santaaai sekali.

Terlihat Pos 3 via Mangli

Di perjalanan yang santai itu, ada banyak peristiwa, dari membawa ubi jalar raksasa yang diberikan warga, poop di pinggir trek, hingga pencarian jodoh Manda yang mengawang di langit Sumbing. Banyak tawa yang kami lalui, banyak keringat yang basahi tubuh kami, banyak debu-debu Sumbing yang menyusup ke masker yang kami kenakan. Namun semua itu kami lalui dengan bahagia.

Jalur Putus Asa

Tanjakan tiada henti, terik matahari menggigiti kulit, dan debu yang terbang karena terinjak betul-betul setia menemani kami berjalan. Lutut terasa lemas dan nyeri, lapar menyerang, napas terasa sesak. Inilah ujian dalam pendakian yang sesungguhnya. Kami harus sabar dan tak boleh menyerah, ya, benar saja, kami berhasil melaluinya.

Lelah dan Senyum


Menuju Pos 4 Bersama Malam

Terlalu lama beristirahat di pos 3 membuat kami lalai dalam disiplin waktu. Dalam keadaan langit yang meredup kami memaksa jalan dengan membawa alat penerangan masing-masing. Sebelum itu, Frans dan Cikal meminta izin pada kami untuk berjalan lebih dulu untuk menjemput mereka yang telah di depan. Kali ini, dalam gelap ini, tersisa saya, Suci, Manda, Yani, Asep, dan Jay. Bersama dingin karena terpaan angin membuat kami ingin bergegas sampai di pos 4. Tidak ada yang bisa kami lihat selain trek yang kami sinari dengan senter. Gelap gulita membuat suasana berubah mencekam meski bintang satu persatu mulai menyapa. Meski begitu, kami tetap semangat. Dengan sisa-sisa tenaga, sisa-sisa tekad, juga sisa-sisa keberanian, itulah yang akhirnya membawa kami sampai ke pos 4 meskipun atas bantuan bang Ucok dan Sofyan yang kembali turun untuk menjemput kami. Terima kasih, kalian.

Waktu yang kami lalui malam itu menjadi bagian dalam perjalanan ini yang berharga, tawa kami melebur jadi satu dalam hangatnya tenda-tenda. Api yang menyembur dari kompor, minyak panas yang bergejolak, makanan-makanan yang siap dimasak, juga ubi raksasa yang sejak tadi saya bawa dengan segenap tenaga. Menjadi momen yang entah mengapa berubah menjadi haru.

Menuju Sunrise

Puncak Sejati, Semangat Sehati

Jam 3 subuh saya terbangun dan tak bisa kembali tidur, akhirnya saya memutuskan untuk membakar roti tawar yang saya bawa dan menyiapkannya sebagai bekal summit untuk kawan-kawan saya. Pagi tiba dan saatnya kami meregangkan kembali otot-otot di seluruh tubuh ini agar siap untuk melangkah. Hanya saja, pendakian kali ini tidak lengkap karena Suci harus beristirahat lebih banyak di tenda karena tubuhnya kelelahan, sementara Frans juga tidak ikut karena harus berjaga dan menemani Suci. Tak apa, lain kali kami semua pasti akan berhasil tiba di tanah tertinggi tersebut. Tidak perlu sedih.

Sebelum Summit

Kami semua melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan trek yang sedikit berbeda dengan trek-trek sebelumnya. Di jalur ini, hanya ada tanjakan tak berujung tanpa ada tanah datar sama sekali. Bebatuan dan tanaman edelweiss menyembul di tiap lahan baik kiri maupun kanan. Estimasi untuk bisa sampai puncak adalah 1 jam, dan memang benar, kami tiba di Puncak Sejati sesuai dengan estimasi tersebut.

Seperti biasa, di puncak gunung manapun pastilah kami berfoto ria sembari menyaksikan bentangan alam Jawa Tengah yang begitu luasnya. Beberapa gunung seperti Merapi, Merbabu, Sindoro, Slamet, dan beberapa gunung lainnya terlihat menyembul malu-malu dari ketinggian ini.

Peace

Indah luar biasa, betapa Allah menebar kebesarannya melalui cantiknya hamparan alam yang ia tunjukan. Patutnya saya, kamu, dan kita semua bersyukur bisa hidup dan bernapas, terlebih, bisa bertawadhu' di tengah perjalanan mendaki ini. Alhamdulillah.

Tak lama, kami bergegas turun dan kembali ke tenda. Setelah lelah melalui perjalanan ini, kami bercengkrama sebentar sembari memasak sisa makanan yang kami bawa. Kami tertawa, bernyanyi, bermain game dan juga bercerita. 

Kembali Turun

Setelah semua peralatan masuk ke dalam tas, kami langsung bergegas turun untuk menghindari treking malam seperti sebelumnya. Kami berusaha untuk turun lebih cepat meski salah satu dari kami tak sengaja terkilir kakinya saat turun, saya yang berada di tengah rombongan memutuskan untuk menemani dua wanita, Suci dan Yani yang ingin turun lebih cepat. Sementara Manda, di-handle oleh Asep dan Jay yang lebih berpengalaman.

Menjelang maghrib, kami tiba di pos dimana pangkalan ojek warga telah bersiap-siap untuk membawa kami kembali turun menuju basecamp. Dan atas dasar itu, cerita pendakian kami telah usai. Namun saya yakin demi langit dan bumi, kenangan yang kami dapatkan dua hari ini tak akan mungkin bisa lenyap.

Rembulan

Sekali lagi, saya selalu dibuat takjub di setiap pendakian manapun, dengan siapapun, gunung apapun. Karena memang, saya tak paham apa yang saya ingin temukan dalam perjalanan penuh juang ini, perjalanan yang tak sedikit menghabiskan tabungan ini, perjalanan yang beresiko ini. Sampai saat ini, saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya hanya senang, bahagia, gembira. Entah adakah kata lain yang dapat menafsirkan betapa saya bersyukurnya memiliki hobi yang saat ini selalu saya lakukan. Yang bila mana telah lama berlalu, rindu pada kegiatan ini meledak-ledak bagai letusan aktif gunung vulkanis.

Tak berlebihan, memang, cinta tak bisa ditafsirkan dengan logika. Hanya dalam diri kita yang memahami sebab musababnya. Tak perlu digali alasan itu, karena sampai kapanpun mungkin tak akan bisa saya temukan.

Memandangi

Ringkasan Estimasi Perjalanan
  • Jakarta → Basecamp Adipuro → 12 jam 
  • Basecamp → Pos 1.5 dengan ojek → 15 menit
  • Pos 1.5 → Pos 2 → 30 menit
  • Pos 2 → Pos 3 → 3 Jam 
  • Pos 3 → Pos 4 → 3 Jam
  • Pos 4 → Puncak → 1 Jam




[Artikel] Dari Valak Hingga Telolet, Indonesia Mudah Ciptakan Viral! Mengapa?

Dari Valak Hingga Telolet, Indonesia Mudah Ciptakan Viral! Mengapa?
Hasil foto collage pribadi


Tahun Monyet Api 2016 akan segera berganti dalam sepekan kedepan, banyak sekali hal yang dirasa begitu viral dan mewabah di kalangan masyarakat Indonesia. Kira-kira apa saja ya? Dan apa penyebabnya?
Seperti yang kita ketahui, semua yang menjadi hits dan terkenal tersebut rata-rata kontennya hanyalah hal kecil dan sederhana. Contohnya saja bagaimana iblis Valak yang digambarkan oleh James Wan di Sekuel The Conjuring Pertengahan tahun lalu, masih ingat betapa ramainya meme dan jokes yang mondar-mandir di media sosial kalian bukan? Sosok fenomenal seperti Valak ini sangat mewabah dan dengan “kerecehan” selera humor para kreator jokes, kita dibuat tertawa.
Akhir-akhir ini, media sosial kita lagi-lagi dijangkit virus jokes sederhana. Siapa yang tidak tahu dengan jargon “Om telolet om”? Pasti sebagian besar atau bahkan semua dari kalian mengetahuinya. Dilihat dari manapun, kata sederhana seperti itu semestinya tidak terlalu penting apalagi mampu membuat kita tertawa, tapi berbeda dengan Indonesia. Hal sesederhana apapun akan mudah dibuat viral, ditambah jargon om telolet om tersebut dimulai oleh anak-anak lugu yang “haus telolet” dari klakson bus yang lalu lalang di jalan raya.  Padahal berbahaya ya?
Sebelum kita mengetahui apa penyebab dari mudahnya konten sederhana menjadi viral di Indonesia, simak dulu yuk kaleidoskop konten-konten yang viral pada tahun 2016.
1. Descendant of the Sun
Sumber: reviewkdrama.com
Sumber: reviewkdrama.com
Bagi yang belum tahu pasti akan bingung, tapi untuk para penggemar Drama Korea akan langsung ngeh dan mengiyakan apa yang tertulis di atas. Descendant of the Sun adalah Drama korea yang mengisahkan hubungan manis antara Dokter muda cantik dan Kapten tentara ganteng di negeri Ginseng. Kang Mo Yeon dan Yoo Shi Jin menjadi pasangan viral di pembuka tahun 2016 dari kisah cinta unik mereka.

Jika Drama biasanya hanya menarik penonton bagi para penikmat Korea saja, beda dengan yang satu ini. Dengan kekuatan rating yang mampu menembus 38,8 % pada episode pamungkasnya, Descendant mampu memikat hati para penonton Indonesia termasuk yang merupakan kalangan non-Kpopers. Semua itu dilihat dari profil picture hingga status-status media sosial mereka yang tidak ada henti-hentinya menampilkan tokoh Descendant of the Sun khususnya kedua pasangan tokoh utamanya tersebut.
Sebagai laki-laki, saya tak luput dari virus Descendant ini, mengingat kisahnya tidak melulu tentang Romantisme si tokoh, melainkan lika-liku kemiliteran hingga bencana gempa besar yang mengharuskan Sang Dokter dan Sang Tentara berpadu menjadi super hero! Bagi kalian yang belum lihat, saya rekomendasikan drama yang satu ini. Keren!
2. Valak
Sumber: villains.wikia.com
Sumber: villains.wikia.com

Yap! Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Valak menjadi “tokoh” Viral di pertengahan tahun 2016. Sesuatu yang aneh mengingat Valak adalah tokoh iblis yang digambarkan begitu menyeramkan oleh James Wan sang Sutradara film yang sangat populer, The Conjuring 2 : Enfield Poltergeist. Berbeda dengan tokoh hantu prekuel filmnya Batsheba, Valak menjadi hal yang amat terkenal. Bahkan saking populernya, akan dibuatkan spin-off nya yang berjudul The Nun!

3. Pokemon Go
Sumber: http://www.keywordsking.com
Sumber: http://www.keywordsking.com
Siapa yang tidak tahun Pokemon Go? Game besutan Niantic ini menjadi game yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat dunia. DUNIA! Bagaimana tidak? Game ini memungkinkan para pemainnya untuk berjalan-jalan dalam pencariannya untuk menemukan Pokemon langka.
Bahkan ada kasus di mana pemain tersebut menyewa jasa ojek online untuk sekedar berkeliling mencari Pokemon tanpa memikirkan kocek yang harus ia keluarkan? Wah? Menjiwai sekali ya!
Ada juga peristiwa dimana di suatu taman, terlihat ratusan orang berlarian untuk mendapatkan pokemon langka yang ada di satu titik tempat. Menyukai suatu hal boleh, tapi jangan sampai mencelakai diri sendiri ya, Bisa rugi! Pokemon dapat tapi kondisi tidak sehat? Mana seru.
4. PPAP
Sumber: kawankumagz.com
Sumber: kawankumagz.com
Pernah dengar PPAP?
I Have a pen, I have an apple! Ugh Apple pen.
I Have a pen, I have pineapple! Ugh Pineapple pen.
Apple pen, pineapple pen! Ugh!
Pen pineapple apple pen!
Jika kalian membacanya sambil menyanyi, bisa dipastikan kalian telah terjangkit virus PPAP! PPAP merupakan lagu yang dinyanyikan oleh musisi dan komedian Jepang bernama Kazuhiko Kosaka, atau yang lebih dikenal dengan Piko-Taro. Video ini viral sekira bulan September, padahal sudah diunggahnya dari bulan Agustus. 
Yang lucu adalah, di video tersebut dia menggabungkan barang-barang yang dipegangnya seolah bertransformasi dan bersatu. Dan ini menjadi jokes di kalangan meme maker dengan menggambungkan benda-benda atau hal lainnya. Lucu!
5. Mannequin Challenge
spagosmail.blogger.ba
spagosmail.blogger.ba
Tidak mungkin Mannequin Challenge tidak masuk list, mengingat semua kalangan lintas generasi mengunggah video bak Maneqquin miliknya ke sosial media. Dari pelajar hingga presiden melakukan Challenge yang satu ini. Lagu yang umum digunakan adalah Black Beatles milik Rae Sremmurd.
6. Om Telolet Om
Sumber: www.warsito.web.id
Sumber: www.warsito.web.id
Ini sih yang luar biasa viralnya akhir-akhir ini. Dengan jargon omm telolet om, semua orang sudah bisa dibuat tertawa. Untuk pengetahuan saja, kegiatan mencari “Telolet” oleh anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SD ini sudah lama dilakukan. 

Biasanya, terminal. Mereka akan berbondong-bondong mengejar bus yang akan berangkat atau yang telah kembali dari terminal bus dengan bermodal Handphone genggam dan teriakan “OM TELOLET OM!” untuk direkam.
Banyak artis-artis luar macam Zedd, DJ Snake, Yellowclaw, Marshmello, bahkan Aktris dan penyanyi Korea Sulli ikut meramaikan euphoria Om telolet om ini. Ada juga artis yang bertanya apa itu om telolet om seperti Martin Garrix hingga Bambam GOT7.
Kolom komentar para artis-artis dunia hingga preside AS saat ini penuh dengan Om telolet om. Bahkan ada yang merasa terganggu dengan spam yang viral ini. Bersenang-senang boleh, asal jangan mengganggu mereka. Benarkan?
1. Lebih dari 250 Juta Penduduk
Sumber: Globalstats-Research.com
Sumber: Globalstats-Research.com
Ini sudah jelas, Indonesia salah satu pengguna media sosial yang paling banyak di dunia. Padahal, media sosial itu sendiri datangnya lebih lambat daripada negara-negara lain lho! Tapi kok dalam sekejap saja penggunanya sudah membludak ya? Dari anak kecil hingga orang tua sudah bisa dipastikan memiliki akun media sosialnya sendiri.
Dari banyak pengguna medsos itu, akan sangat memudahkan bagi suatu “Konten Populer” untuk tersebar ke semua orang. Fitur Like dan Sharing menjadi senjata ampuh untuk menyebarkan berita hingga konten tersebut menjadi viral.
Asal jangan menyebar berita HOAX ya!
2. Rasa Penasaran dan Ingin Tahu
Arti KEPO. Abbreviations.com
Arti KEPO. Abbreviations.com

Manusia kan punya akal dan nafsu, wajar bila tingkat “Knowing Every Particular Object” atau KEPO manusia sangat tinggi. Ditambah adanya fitur pencarian semacam Google yang sangat mudah untuk di akses.
3. Manusia Mudah Terhibur “RECEH”
Sumber: www.firdausblog.com
Sumber: www.firdausblog.com
Kata Receh menjadi hal yang beken dengan maksud kita mudah untuk dihibur atau mudah untuk tertawa dari suatu jokes sederhana. Terbukti kan dengan melihat meme Valak atau Om telolet om kita jadi tertawa?
Itu adalah alasan mendasar dari mudahnya konten sederhana menjadi viral di Indonesia, tidak bisa di pungkiri kombinasi dari ketiga alasan tersebut pasti akan membuat sesuatu hal menjadi viral. Bayangkan bila kalian membaca hal menarik lalu menyebarkannya, kemudian yang melihat post-shared anda akan menyebarkannya pula, begitu terus hingga menjadi pesan berantai dan tersebar ke seluruh Indonesia. 
Dan yang tidak punya medsos pun akan merasa penasaran dengan kepopuleran tersebut sehingga memaksakan diri untuk mencarinya di situs pencari seperti Google. Hebat bukan?
Kita boleh saja mengikuti Euphoria dari Kepopuleran suatu hal, tapi jangan sampai berlebihan ya. Ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Karena jika ada yang menyukainya, pasti akan ada yang membenci, Itulah bagaimana hidup ini berjalan.

[Artikel] Legend of the Blue Sea, Kisah Cinta Duyung Cantik di Era Modern

sumber: tv.mthai.com
Jika mendengar kata "Korea" apa yang langsung ada di pikiran kita? Musik KPOP yang digandrungi remaja dunia? Pria-pria ganteng? atau Perempuan cantiknya? Jika ya, coba sesekali anda mengintip karya-karya luar biasa hasil olah tangan kreatif film maker Korea yang sering kali menjadi viral di dunia. Jika anda berpikir tentang drama Korea, maka jawabannya tepat sekali! Karena Korea Selatan, tidak hanya memproduksi musik-musik easy listening nan catchy di telinga kita, tetapi dengan kreativitas yang mereka miliki, Korea Selatan mampu menghasilkan tontonan drama yang layak sekali untuk disaksikan oleh masyarakat dunia, tentu saja dengan mengesampingkan kendala bahasa yang agaknya sedikit rumit dan tidak terbiasa didengar oleh telinga kita.
Lalu saat ini drama apa sih yang menjadi perbincangan masyarakat? Tentu saja salah satunya adalah drama yang dibintangi oleh Aktris Jenius Jun Ji Hyun dan Aktor yang sering kita dengar namanya yaitu Lee Min Ho, mereka memerankan karakter utama dari drama dengan tajuk Legend of the Blue Sea. Drama ini mangangkat sebuah kisah klasik masyarakat Korea Selatan (Cerita Rakyat) dimana seorang Putri Duyung yang terdampar di pesisir pantai ditangkap oleh seorang nelayan dan kemudian dilepaskan kembali oleh seorang bangsawan Joseon bernama Dam-lim (Lee Min Ho).
sumber: aradrama.co
Alur melompat ke zaman modern dimana Shim Chung (Jun Ji Hyun) kembali ditangkap oleh Heo Joon-jae (Lee Min Ho), seseorang penipu ulung tampan yang dingin dan merupakan doppelganger dari Dam-lim. Tapi saat ini, Heo Joon-jae bekerja dengan Jo Nam-doo (Lee Hee-joon), seorang penipu terampil yang memandu Joon-jae untuk menjadi penipu jenius. Nah! Legend of the Blue Sea akan menitikberatkan pada kisah cinta antara Shim Chung sesosok Putri Duyung cantik yang terjebak di era Modern dengan Heo Joon-jae yang merupakan seorang penipu jenius. Menarik bukan?

Terbukti drama ini mampu menembus rating 16,4% pada tayangan perdananya, dan sekarang di episode keempat, Legend of the Blue Sea mampu menembus rating hingga 17.1%. Memang bukan hal yang mengejutkan karena naskah drama ini ditulis oleh salah satu penulis terkenal yaitu Park Ji-eun dimana wanita yang satu ini telah menghasilkan drama-drama hits lainnya seperti My Love From the Star yang juga dibintangi oleh aktris cantik Jun Ji Hyun dan aktor tampan Kim Soo Hyun.

Namun yang mesti diperhatikan di sini adalah, para sineas Korea Selatan tidak segan-segan untuk mengangkat sebuah cerita rakyat untuk dijadikan tayangan yang menarik dan layak untuk ditonton. Padahal, bila kita sadari betul-betul, Indonesia adalah negara yang memiliki segudang cerita rakyat yang agaknya akan menarik bila diangkat menjadi sebuah serial televisi. Yang apabila direalisasikan, tentu manfaat yang didapat bukan hanya sekedar hiburan saja, melainkan juga sebagai edukasi yang dapat mempertajam wawasan masyarakat Indonesia terhadap keberagaman budaya bangsa. Korea Selatan saja bisa, mengapa Indonesia tidak?

[Review Film] DILAN 1991, Gejolak Air Mata Milea


Review ini berdasarkan pendapat pribadi sehingga bisa jadi berbeda dengan pendapat teman-teman.




Spoiler Alert!



Sama seperti tahun sebelumnya saat film Dilan 1990 rilis. Saya kembali berencana mengajak seluruh keluarga saya untuk menyaksikan kisah asmara lanjutan antara Dilan dan Milea di bioskop dekat rumah.

Alasannya sederhana, hanya karena orangtua saya pernah cerita bahwa kisah cinta mereka saat muda hampir sama dengan kisah Dilan-Milea di film tersebut. Bedanya, orangtua saya berakhir dengan bahagia dan berhasil menghasilkan dua putra dan satu putri yang ganteng dan cantik. He he he.

Setelah banyak yang terhanyut oleh gombalan maut Dilan di film pertamanya, Pidi Baiq dan Fajar Bustomi  kembali menggunakan formula yang sama untuk membawa penonton tenggelam dalam dunia (halu)sinasi yang membuat  para gadis remaja mulai menaikan standar untuk mengisi  daftar para pria yang boleh menjadi pacarku. Tentu dia yang seperti Dilan, jago gombal dan punya cara berpikir yang out of the box.

Kita boleh saja terbuai menyaksikan film bernuansa merah jambu di Dilan 1990, namun, di sekuelnya kali ini, kita harus menyiapkan dada yang lapang, karena harus menyaksikan hubungan mereka yang berakhir karena penyebab sederhana , salah paham. Masalah yang sering terjadi pada pasangan di penjuru dunia mana pun.


Dilan memboncengi Milea di tengah derai hujan, saat ditanya apa cita-cita Milea, ia menjawab Pilot. Kemudian Milea balik bertanya, Dilan dengan seringaian khasnya menjawab, "menikah dengan kamu."

Oke, di paruh pertama film, Dilan masih menjadi Dilan-Dilan biasanya. Punya sejuta senjata maut yang bisa kapan saja meluluhkan hati Milea, yang bisa membuat Milea berkali-kali jatuh hati. Semua bergulir dengan normal dan belum terlihat konflik yang berarti.

Namun di paruh akhir barulah perasaan kita dibuat campur aduk. Kesal, sedih, serta bingung menjadi hidangan yang mesti kita santap saat menyaksikan konflik antar kedua sejoli ini. Seperti remaja SMA pada umumnya, mereka begitu naif dalam menunjukan perasaan mereka. Entah mengapa, menurut saya, karakter Milea menjadi begitu menyebalkan tanpa ada pondasi kuat untuk menjelaskan alasan dia menjadi begitu posesif.

Baiklah...baiklah. Mungkin dia memang tidak suka Dilan menjadi panglima tempur.

Iya…iya. Dia juga khawatir Dilan menjadi seperti Akew yang meninggal secara tiba-tiba.

Tapi, saya tidak paham mengapa Milea semudah itu mendeklarasikan bahwa dia ingin putus. Setelah kita diperlihatkan banyak sekali adegan di mana Milea begitu mencintai Dilan.

Aku Rindu. Yang menjadi ultimate skill Milea, seolah serapuh daun kering.

Saya ingat peristiwa di mana Milea berteriak di hadapan orangtuanya, Yugo, dan ibu Yugo. Tanpa tedeng aling-aling Milea mengatakan bahwa Dilan adalah pacarnya, bahwa Dilan dipecat dari sekolah karena melindunginya, bahwa dia sangat-sangat mencintai Dilan.

Saya sebagai penonton begitu percaya dengan apa yang semua Milea katakan.

Tapi justru kekuatan cinta yang bergejolak itu dikalahkan oleh sikap mereka yang menurutku sama-sama keras kepala—mungkin karena latar belakang keluarga mereka adalah tentara, sehingga mereka begitu tough dengan keputusan yang mereka buat. Terlebih Dilan, yang tanpa perasaan benar-benar pergi meninggalkan Milea.

Menuju akhir film, semuanya menjadi tanggung. Saya seolah disuguhkan kisah blurb seperti yang ada di belakang novel, bedanya, blurb ini ditujukan untuk film selajutnya, yaitu Milea : Suara dari Dilan.

Di akhir film semua  peristiwanya berlalu sangat cepat, bett batt bett dan tiba-tiba sudah saja berakhir.

Sebukit pertanyaan terhampar di bagian akhir film Dilan 1991. Mungkin memang tujuannya seperti itu, saya dapat memakluminya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkumpul dan mungkin akan Pidi Baiq jawab dalam film ketiganya yang proses syutingnya berbarengan dengan Dilan 1991.


Soal akting, ada perubahan yang sangat signifikan antara dua tokoh sentral di film ini, terlebih ekspresi Iqbaal Ramadhan yang tereksplorasi dengan baik. Tengil dan nakal, namun tetap menggemaskan, terlebih bagi Milea Adnan Hussain. Meski banyak gombalannya yang terasa cringey, namun bagi saya itu bisa diterima karena pada dasarnya menggombal memang seperti itu, untung-untungan. He he he.

Vanesha Prescilla memperlihatkan improvement-nya sebagai Milea dengan sangat baik. Gadis cantik yang lugu tapi pemberani, teguh pendirian namun cengeng.  Saya pikir, Vanesha merupakan interpretasi tokoh di buku Dilan yang paling tepat, persis seperti yang saya bayangkan. Apalagi di filmnya yang kedua ini, Vanesha sukses membangkitkan empati saya pada dirinya setelah ditinggalkan oleh Dilan. Hanya saja, ada beberapa bagian di mana tangisan Milea terasa kurang meyakinkan.

Tidak lupa dengan beberapa tokoh scene stealer yang menambah nilai plus film ini.

Seperti, para guru saat melepas kepergian Dilan karena dia dipecat. Bagi saya, celetukan maut salah satu guru itu membangkitkan gairah menonton setelah tensi film saat itu sudah mulai menurun, mengingat Dilan dan Milea sudah tidak berada di sekolah yang sama lagi.

Juga adegan pertengkaran Ira Wibowo dan TJ di kantin sekolah, gelagat ibu Anhar yang bak belatung nangka itu benar-benar menghibur saya saat menyaksikannya. Apalagi, petengkaran itu berakhir dengan dampratan bunda Dilan yang berhasil mengusirnya tanpa belas kasih.

Oh iya, penampilan Jerome Kurnia yang memerankan Yugo di film ini juga menurut saya bagus-bagus saja. Banyak yang mengatakan aktingnya terlalu kaku, dsb. Menurut saya, tahun 90an serta pindahan dari Belgia mengantarkan Jerome pada sosok Yugo yang tepat sasaran. Tidak kurang, namun juga tidak lebih.

Hadirnya Bucek Depp dan Happy Salma sebagai ayah dan ibu Dilan-Milea juga tersampaikan dengan nyaris sempurna.


Musik pengiring menjadi pointer yang sangat berpengaruh di film ini, entah kenapa, saya suka dengan vibes musiknya yang begitu ringan di telinga. Serta tentu saja, 90an banget. Saya sampai berulang kali mendengarkan soundtrack Dilan di youtube hanya untuk sekedar melepas rindu dengan si cantik Milea.

Latar suasana dan tempat dibuat dengan serius, membuat saya percaya bahwa ini benar-benar tahun 90an, dibalut sinematografi Bandung yang tervisualisasi dengan baik (lebih baik dari Dilan 1990).

Saya suka melihat saat Dilan dan Milea saling berboncengan di atas motor cb100. Romansa yang kental mengiri perjalanan mereka. Membuat saya ingin memboncengi pacar juga di atas motor sambil hujan-hujanan di tengah kota yang sepi. Hmmm.



Kesimpulannya, film Dilan memang cocok ditonton oleh semua orang, kisahnya yang sederhana dapat menjangkau semua kalangan. 

Pidi Baiq seolah mengeja cerita di buku untuk dijadikannya sebuah film. Dialognya tak diubah, serta adegannya dibuat semirip mungkin dengan buku.

Namun, bila memang Pidi Baiq dan Fajar Bustomi ingin mem-paste filmnya serupa buku, mengapa ia tak menyelesaikan kisah Dilan 1991 seperti yang di buku pula? Semuanya berakhir pada pertemuan 'tidak sengaja'  antara Dilan dan Milea di kantor Mas Hardi.

Padahal, seperti yang pembaca tahu. Masih ada plot yang tersisa setelah pertemuan Dilan dan Milea di Jakarta. 

Entahlah, mungkin plot yang tersisa bila dimasukan bisa mengganggu benang merah antara Dilan 1991 dan Milea : Suara dari Dilan. Namun kita tidak tahu dan tetap mesti sabar, menunggu pertanyaan-pertanyaan yang berhamburan itu agar bisa terjawab.

Anjuran

Bagi kalian yang belum menyaksikan Dilan 1991. Tontonlah, pun bila kalian sudah tahu inti cerita dari bukunya, mungkin ada sensasi yang berbeda saat kita menyaksikan cerita itu dalam bentuk audio-visual. Memang belum begitu sempurna, namun, begitulah, tak ada yang benar-benar sempurna dalam sebuah suguhan film.

Pidi Baiq sudah berusaha untuk merepresentasikan Dilan dan Milea menjadi wujud nyata yang dapat membangkitkan jiwa nostalgia masa SMA.

Terbukti jelas pada ekspresi orangtua saya setelah selesai menonton Dilan 1990. Sepanjang film mereka tak henti-hentinya tersenyum, dan tak berbeda juga setelah menonton Dilan 1991, mereka keluar dari bioskop dengan perasaan bahagia dan larut dalam hujan air mata (Ibu saya).  Adik saya yang paling kecil, Rayya, kelas 3 SD, juga menikmati film ini. Ia terbahak-bahak saat Dilan meluncurkan serangan gombalnya, ia juga menangis saat Milea menangis, meski  saya tahu ia tak mengerti betul dengan plot cerita di film tersebut.

Pidi Baiq berhasil membangun nuansa yang haru biru di akhir film sehingga membuat kita tak sabar untuk melihat kelanjutan dari kisah mereka.

Dan…

Entah mengapa, sebagai pembaca ketiga buku Dilan. Saya mengharapkan twist yang membuat seluruh penonton terkejut habis-habisan saat menyaksikan film Milea: Suara dari Dilan.

Yaa, kita tunggu saja.


Penilaian

3.5 / 5

Pendakian Pertama 2017, Papandayan Pemilik Sunrise Terbaik (Bermotor dari Jakarta)

Langkah selalu terarah
Membawaku jatuh ke tanah basah
Syukur Tuhan mengenalkan
Pada kawan yang bawaku ke ketinggian
Melihat rasi melukis malam yang nirmala


Papandayan! Tak pernah terbesit sedikit pun bagi saya untuk mengarahkan langkah kaki ke sana. Tak seperti Bali, Jogja, Bandung, atau destinasi wisata lainnya yang lumrah untuk dikunjungi.

Meskipun banyak yang bilang bahwa Papandayan hanyalah tempat wisata. Bagi saya, Papandayan tetaplah berwajah menyeramkan, gunung adalah  gunung, gagah berdiri menantang langit, siap mendepak siapapun yang datang dengan kesombongan.

Lalu saya, bersama lima rekan saya, Hana, Boni, Bima, Oscar, dan Ayu.

Remaja tanggung yang datang membawa segenggam rasa penasaran. Mendatanginya, mendatangi Papandayan yang kelak menjadi bagian sejarah dalam hidup saya, yang memperkenalkan saya pada corak warna-warni bumi, pada adhiwarnanya, pada rasa syukur yang membakar semangat saya untuk datang kembali, lalu datang lagi, kemudian datang lagi. Yang memantik rasa syukur saya untuk mencintai alam, mencintai ketinggian, mencintai perjalanannya yang ditempuh untuk sampai di keindahan.

Inilah Papandayan, si kecil dari Jawa Barat.


Saat fajar hampir datang


Baiklah, sesuai judulnya, saya memang mendatangi Papandayan dengan cara yang sedikit menguras tenaga, yaitu dengan mengendarai sepeda motor. Benar saja, perjalanan yang lumrahnya ditempuh sekira 8 jam, dengan kesoktahuan kami yang buta arah, tibalah di basecamp Papandayan dengan waktu yang cukup lama, yaitu 12 jam, tentu saja dengan banyaknya kendala yang mesti kami lalui, mulai dari tertilang polisi, terpisahnya saya dari rombongan, hingga mogoknya motor rekan saya, Bima, saat mendaki tanjakan curam di kaki gunung Papandayan (arah menuju basecamp).

Saya dan 5 rekan saya yang lain tiba pada pukul 8 malam. Saat itu, hujan menyertai perjalanan kami, saya menggigil, dingin, sumpah, mengendarai motor saat hujan tanpa mantel adalah pilihan bodoh yang saya lakukan saat itu. Tapi untunglah, di basecamp Papandayan ada penjaga yang membuat api unggun. Saya terselamatkan.

Lalu, Saya dua kali terselamatkan saat tak sengaja mengadah ke langit malam. Bintang-bintang yang bertabur di gelapnya malam sungguh menghangatkan raga saya, bahkan mungkin jiwa saya saat itu. Saya beruntung, ternyata langit mau berbaik hati untuk memperlihatkan lukisannya yang agung.

Di sana, Hana bertanya pada penjaga loket soal biaya yang mesti kami bayar untuk bisa masuk, dan ternyata benar kata orang. Papandayan adalah gunung yang sangat mahal. Untuk bisa masuk, kami harus merogoh kocek  kurang lebih 30 ribu perharinya, itupun belum biaya kendaraan.

Untungnya, kami memutar otak dan ternyata berhasil. Kami membangun tenda di luar lokasi pendakian, lalu menitipkan kendaraan di dekat gerbang masuk agar tidak dikenai biaya parkir yang cukup mahal, kami memohon penjaga sana untuk sekali waktu memantau motor kami, dan mereka ternyata berbaik hati mau. Artinya, kami hanya dihitung memasuki kawasan pendakian satu hari saja, dan wajib membayar sejumlah 30 ribu. Akan beda bila kami masuk saat itu juga, kami harus membayar dalam hitungan dua hari dan biaya masuk kendaraan. Bila dijumlahkan, duh, bangkrut.

Malam itu kami berenam tertidur dalam tenda yang normalnya berisi empat orang. Namun, karena berdesak-desakan, dingin yang menghantam kulit justru menjadi hilang.

Pukul 4 pagi, kami bangun dan bersiap untuk mendaki. Kondisi tanah yang lembab membuat nyali saya sedikit ciut saat itu, apakah saya bisa? Mungkin berlebihan bagi anda, tapi percayalah, saya yang nihil pengetahuan soal gunung saat itu benar-benar kebingungan. Siapa juga pukul 4 pagi malah menyusuri hutan dan baku hantam dengan tanah basah?

Dengan kesoktahuan kami berlima (Ayu memutuskan tidak ikut dan bergabung dengan penjaga di basecamp) bergeraklah kami menuju trek pendakian di tengah gelapnya suasana kala itu. Penerangan hanya berasal dari bulan dan senter yang kami bawa, dingin menusuk kulit, bebatuan menusuk telapak kaki, dan rasa takut membebani. Kami terus berjalan dan beberapa kali bertemu pondok kecil yang kala itu belum saya ketahui fungsinya (ternyata itu adalah shelter untuk beristirahat).


shelter dengan pemandangan menakjubkan


Saat di ketinggian tertentu, matahari mulai malu-malu menyapa, kehangatannya seolah menyirami seluruh tubuh kami, dan…sungguh! Kalian harus melihatnya.

Bagi saya, pemandangan yang saya lihat ini tidaklah ada duanya.

Matahari menyembul di sela-sela gunung Cikuray yang terlihat dari posisi kami.

Menawan, langit menjadi ungu keemasan. Bintang-bintang yang bertabur di angkasa belum hilang meski matahari sudah sedikit hadir.


keemasan


Pemandangan sunrise terindah dalam hidup saya. Hingga saat ini, dari beberapa gunung yang sudah saya singgahi, Papandayan masih menjadi pemilik sunrise terbaik!

Kami menyempatkan diri untuk befoto hingga fajar menyingsing, ia bergagah-gagah menghadiahi kami cahayanya yang hangat. Kami duduk sebentar memandanginya lalu  melanjutkan perjalanan menuju Hutan mati.

Hutan Mati

Tak henti-hentinya Papandayan membuat saya takjub, gugusan pohon mati yang terhampar luas begitu memanjakan mata. Konon, hutan mati ini terbuat karena letusan dari gunung Papandayan itu sendiri yang menghanguskan pepohonan di sekitar kawah. Tapi, hasilnya justru terciptanya hutan ikonik ini. Kalian yang ke Papandayan wajib untuk ke sini. Posisinya memang agak tinggi, menyusuri bebatuan yang bertangga-tangga, tapi percayalah, jika sudah sampai kalian tidak akan kecewa.

Saat puas memandangi adhiwarna Papandayan, kami memutuskan untuk kembali turun mengingat rekan kami Ayu, ditinggalkan seorang diri di basecamp.

Namun saat melihat jam masih terlampau pagi, kami mengurungkan niat dan bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun, surganya Edelweiss.

Baiklah, saya mengakui bahwa kepala-kepala kami perlu dihantam sebagai pembelajaran untuk mendepak rasa egois dalam diri. Meninggalkan rekan seorang diri di basecamp bukanlah merupakan tindakan terpuji, dan saat itu, kami telat sadar. Untungnya saat kembali turun, Ayu terlihat sedang asyik tertawa bersama salah satu penjaga loket di basecamp Papandayan. Alhamdulillah.


bukit bebatuan


Untuk menuju Tegal Alun, kami mesti menaiki sebuah bukit yang ada di depan kami saat itu, kami bergegas mencari trek yang benar dan bertemu dengan beberapa pendaki yang kebetulan mengarah ke tujuan yang sama. Kami segera melangkahkan kaki, semakin tinggi, samakin terjal trek yang kami lalui, entahlah, mungkin kemiringannya sekira 70 derajat mengingat posisi kami seperti sedang memanjat tebing. Hanya saja, bebatuan yang besar menjadi pegangan kami agar tidak terperosok ke bawah.


trek bebatuan

dekat kawah


Perbekalan minum kami habis, namun haus menyerang.  Saya yang saat itu berada di paling depan berteriak pada pendaki yang lebih dulu di atas untuk meminta seteguk air, dan syukurlah, ia memberikannya.

Menjadi langkah yang salah saat kami percaya pada salah satu rekan kami, Oscar, ia mengatakan tidak perlu membawa minum sebab di Tegal Alun ada telaga yang airnya bisa di minum. Memang benar ada telaga, namun banyak lumut yang bersarang sehingga sulit untuk mengatakan bahwa air itu layak untuk diminum. Tapi karena sudah terlampau haus, saya tetap memutuskan untuk meminumnya.

Tegal Alun

Saya menamainya, Hidden Paradise of Edelweiss. Ya! Surga yang tersembunyi bagi Edelweiss. Saat pertama kali memasuki area Tegal Alun, kita sudah disuguhi dengan hamparan kebun Edelweiss yang begitu rapi tertata, Indah. Asli, Indah sekali. Belum lagi di tengahnya ada telaga mungil yang merefleksikan bunga-bunga Edelweiss sehingga membuatnya dua kali lipat lebih indah. Duh, asli, kalo ingat itu rasanya ingin kembali lagi!

telaga di tegal alun


Tapi, kami tidak bisa berlama-lama, sebab Ayu masih menunggu kami di basecamp seorang diri. Boni yang sedang asik memotret akhirnya menyudahinya, dan kami bergegas untuk kembali turun.

Dari sini, kami tidak mengambil jalan memutar yang mengarah ke Pondok Saladah. Kami kembali ke jalur sebelumnya, dari sini, saya menyadari sesuatu. Bahwa mendaki sebaiknya mesti menghindari celana jeans. Udah ribet, susah kering pula! Jalur yang terjal memaksa kami harus berseluncur seperti bocah. Kotor menggerayangi seluruh pakaian kami. Pokoknya bener-bener cebrik deh, lumpur tanah, lumpur belerang, semuanya menempel di baju dan celana. Tapi tak apa! Jadikan pembelajaran.


rest

Aksi turun pun berlanjut, mungkin karena saat naik kita fokus melihat  ke atas, kami jadi melewatkan pemandangan luar biasa di belakang kami. Sungguh perbukitan hijau memanjakan mata, tak heran, Papandayan selalu ramai pengunjung mengingat suguhan alamnya tak bisa diremehkan!


pemandangan perbukitan

Sekira pukul 12 siang, kami tiba di basecamp dan kembali menjumpai Ayu. Dia ternyata menunggui kami sembari mengobrol banyak dengan akang penjaganya, saya bersyukur, tak terjadi apapun pada Ayu mengingat kondisi fisiknya yang sedang kurang bagus.

Setelah itu, kami beberes dan pamit. Kami pulang dengan formasi yang sama. Saya dengan Boni, Ayu dengan Bima, Hana dengan Oscar. Kami turun dan memutuskan untuk makan siang di daerah kaki gunung Papandayan.


kami berenam dan akang penjaga


Kami berpikir saat itu, pulang semestinya berlalu lebih cepat dsbanding saat berangkat. Namun naas, hujan kembali menggerayangi kami dan membuat kami pulang dengan rasa lelah yang teramat sangat. Bayangkan! 13 jam perjalanan, atau dengan total 25 jam pulang pergi sudah plus istirahat, kami berada di perjalanan.

Lebih lagi, motor yang saya bawa adalah motor kopling dimana saat itu rekan-rekan saya belum ada yang bisa mengendarainya, hingga memaksa saya mengendarai tanpa ada pergantian rider! Huh! Lelah tapi mengingat apa yang kami dapat di Papandayan meluruhkan semua perasaan-perasaan negatif itu hingga membuat saya menjadi sekarang ini.

Berkat Papandayan, saya belajar banyak hal. Manajemen waktu, persiapan matang, hingga membuang ego jauh-jauh, ah satu hal lagi, peralatan mendaki! Saya tidak mengenakan peralatan mendaki satupun kala itu. Jaket, sepatu, tas, hingga pakaian. Dari sana, saya mulai mencicil untuk membeli beberapa perlengkapan, dan saat ini, saya menjadi ketagihan untuk datang lagi, lalu datang lagi, kemudian datang lagi.


makasih boni udah difotoin wkwk


Inilah cerita singkat saya mendaki pertama kali, saya dibuat takjub oleh keindahan alam, saat di rumah, perasaan saya bergejolak untuk mengunjungi gunung-gunung lain di Indonesia. Menjumpai adhiwarnanya dengan kebudayaan lokal di setiap daerah yang luhur.

Arah lengkah membawaku kembali datang
Mengunjungi langit-langit di atas awan
Menjumpai corak bumi di ketinggian
Semua sebab rindu datang menghujam